©pesonascience.blogspot.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 11 September 2012

PROYEK KEBUT SEMALAM

Sebagai masyarakat Riau tentunya merasa bangga, PON ke XVIII akhirnya dihelat di bumi Lancang Kuning. Tentunya perlu perjuangan yang luar biasa dari semua pihak terutama dari pemerintahan provinsi riau untuk bisa mengupayakan even bergengsi nasional yang diadakan tiap 4 tahunan itu digelar di Provinsi Riau.

Sebelum perhelatan dilaksanakan, persiapan jauh-jauh hari telah direncanakan secara matang mulai dari pembangunan venue-venue berbagai cabang olahraga di kota dan kabupaten yang ada diprovinsi Riau, hingga infrastruktur penunjang lainnya. Persiapan tak hanya dilakukan oleh pemerintah provinsi, kabupaten atau kota saja, pihak BUMN maupun swasta juga ikut berpartisipasi dalam mensukseskan even 4 tahunan tersebut.

Pembenahan mulai dilakukan dengan pembangunan serta perbaikan gedung maupun infrastruktur penunjang pelaksanaan PON. Sebagai tuan rumah Riau tentu ingin berupaya yang terbaik dan tentunya ingin dianggap luar biasa dalam menyambut tamu-tamunya dalam perhelatan tersebut. Lihat saja dengan anggaran yang luar biasa venue pon maupaun sarana dan prasarana lainnya berdiri dengan megahnya.

Namun dibalik itu semua, dengan tidak mengurangi rasa bangga sebagai masyarakat Riau perlu kita evaluasi, kenapa perencanaan matang yang telah disusun jauh hari untuk mempersiapkan PON ke XVIII terkesan seperti “proyek kebut semalam” artinya hingga 1 minggu menjelang pelaksanaan PON bahkan menjelang detik-detik cabang olahraga dipertandingkan masih terdapat pekerja mengerjakan, memperbaiki, mempercantik pusat pemerintahan atau daerah-daerah yang akan dijadikan tempat pelaksanakan PON.

Selain itu banyak venue cabang olahraga sebut saja venue biliar yang atapnya bocor ketika hujan, stadion utama yang parkirannya tergenang air ketika hujan, venue tenis yang kanopinya rubuh, venue menembak dimana alat-alat pendukung belum terpasang dengan baik, bahkan sekaligus wisma atlit  bermasalah dan mendapat sorotan tajam dari media massa nasional, mungkin saja keburukan tersebut menjadi cibiran bagi daerah-daerah lain. Sebagai masyarakat Riau tentunya hal tersebut membuat telinga menjadi “panas”. Namun apa daya itulah kenyataannya.

Berkaca pada perhelatan SEA GAME di Palembang beberapa waktu yang lalu, dimana hampir terjadi kemiripan kasus dengan yang ada di Riau. Kenapa hal tersebut tidak dijadikan bahan evaluasi oleh pemerintah pusat sebagai pengawas akan persiapan dan pelaksanaan perhelatan besar, karena untuk persiapan dan pelaksanaan itu semua pemerintah pusat mengucurkan dana lebih bagi tiap-tiap daerah yang akan melaksanakan acara-acara berkelas.

Kesimpulannya, kenapa saat perhelatan akan dimulai bahkan hingga detik-detik pelaksanaann masih saja ada yang belum selesai?apakah pemerintah daerah salah memperkirakan waktu dalam penyelesaian?apakah membutuhkan tambahan waktu untuk finishing?apakah kekurangan dana? Banyak tanda tanya dibenak masyarakat Riau khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya, kenapa setiap ada perhelatan akbar ketika menjelang pelaksanaannya masih saja belum terselesaikan dengan baik dan rapi.

Sekali lagi evaluasi perlu dilakukan oleh pemerintah pusat maupun pihak yang berwenang dibidangnya dengan adanya ketidakberesan dalam perhelatan besar seperti PON, misalnya dengan pemberian sangsi kepada daerah yang tidak mampu menyelesaikan apa yang seharusnya di selesaikan sesuai dengan “deadline” yang diberikan, misalnya dengan pengurangan pembagian “kue”  anggaran belanja bagi daerah yang dianggap tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, diskor keikutsertaannya dalam perhelatan PON tersebut, banyak cara yang bisa dijadikan bahan evaluasi dan bagaimana cara penyelesainnya.

Semoga PON ke XVIII yang diadakan di Provinsi Riau berjalan dengan baik, dan pelayanan yang diberikan memuaskan bagi para tamu serta diharapkan untuk pelaksanakaan PON atau even besar lainnya kedepannya mampu lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Total Tayangan Halaman

About

Followers