Tulisan ini muncul begitu saja, sekelebat. Di sela-sela merenungi kehidupan dunia, bagaimana nasib saya esok, ekonomi keluarga, dan berbagai persoalan hidup lainnya tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya sebuah teori psikologi yang saya ketahui : konsep id, ego, dan superego yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, seorang tokoh besar dalam dunia psikoanalisa.
Perlu saya tegaskan di awal, tulisan ini murni buah pemikiran dan perenungan pribadi. Karena itu, tidak perlu diperdebatkan bila ada pembaca yang kebetulan tidak sependapat atau kurang menyukai sudut pandang yang saya tuangkan di sini. Anggap saja ini sebagai catatan reflektif seorang manusia biasa yang sedang mencoba memahami dirinya sendiri melalui dua kacamata sekaligus: sains psikologi dan agama.
Memahami Struktur Kepribadian Menurut Freud
Sigmund Freud, dalam teorinya yang terkenal tentang struktur kepribadian manusia, membagi ke dalam tiga lapisan yang saling bertautan dan bahkan sering kali saling bertentangan satu sama lain.
Pertama, ID (Das Es), yaitu bagian kepribadian yang paling dasar, primitif, dan sepenuhnya bersifat bawaan sejak lahir. Id adalah sumber dari segala dorongan biologis, nafsu, serta insting primal manusia. Ia bekerja berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle) selalu menuntut kepuasan instan tanpa peduli pada logika, aturan sosial, apalagi konsekuensi moral.
Kedua, EGO (Das Ich), yang berperan sebagai komponen rasional dan penengah. Ego berdiri di tengah, menjadi mediator antara tuntutan liar dari id di satu sisi dan batasan moral yang ketat dari superego di sisi lain. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas (reality principle) ia berusaha memenuhi keinginan manusia dengan cara yang masuk akal, aman, dan sesuai dengan kondisi nyata di sekitarnya.
Ketiga, SUPEREGO (Das Über-Ich), yaitu bagian moral atau hati nurani manusia. Superego terbentuk dari nilai-nilai sosial, norma, serta ajaran moral yang ditanamkan sejak kecil oleh lingkungan dan orang tua. Fungsinya adalah senantiasa mengingatkan manusia tentang mana yang benar dan mana yang salah.
Yang Tampak dan yang Tidak Tampak
Ada satu hal menarik yang justru semakin menguatkan analogi ini, ini sekadar tafsir pribadi saya semata dengan penjelasan ilmiah mengenai teori struktural Freud itu sendiri. Menurut teori tersebut, id sepenuhnya berada di alam bawah sadar manusia, sedangkan superego juga sebagian besar bersifat tidak disadari. Keduanya adalah lapisan jiwa yang bekerja secara tersembunyi, tidak pernah benar-benar "terlihat" oleh kesadaran manusia sehari-hari.
Sebaliknya, ego digambarkan sebagai bagian yang sebagian besar bersifat sadar dan bertindak sebagai penengah antara keduanya. Ego adalah sisi jiwa yang berhubungan langsung dengan dunia nyata, mengambil keputusan yang dapat diamati lewat tindakan dan perilaku manusia sehari-hari dengan kata lain, ego adalah bagian yang "tampak"
Jika dikaitkan dengan analogi yang saya bangun sebelumnya, kemiripan ini menjadi semakin kuat. Iblis dan malaikat dalam Alquran sama-sama merupakan makhluk gaib sesuatu yang tidak tampak oleh mata manusia, namun keberadaan dan pengaruhnya diyakini nyata dalam kehidupan. Ini persis seperti id dan superego keduanya tidak tampak, bekerja di ranah tersembunyi, namun pengaruhnya terasa nyata dalam setiap dorongan dan suara hati manusia. Sementara itu, manusia adalah makhluk yang tampak, hadir secara fisik di dunia, dan tindakannya dapat dilihat serta diamati sama seperti ego yang beroperasi pada level kesadaran dan berhadapan langsung dengan realitas.
Sebuah Refleksi: Menghubungkan Teori Freud dengan Tiga Makhluk Allah dalam Alquran
Ketika merenungi kembali teori Freud tersebut, entah mengapa pikiran saya justru melompat pada tiga makhluk Allah yang disebutkan dalam Alquran. Bagi saya, ada semacam kemiripan struktural meski tentu berbeda konteks dan sumbernya antara pertarungan batin yang digambarkan Freud dengan pertarungan spiritual yang digambarkan dalam Alquran.
Id = Iblis. Dalam Alquran, iblis digambarkan memiliki tugas utama untuk menyesatkan manusia dan menjerumuskan mereka agar ingkar kepada Allah SWT. Ia menyesatkan dan menggoda manusia, memprovokasi serta menimbulkan permusuhan di antara sesama, bahkan berani mengingkari janjinya sendiri kelak di hari kiamat. Jika direnungkan, peran iblis ini sesungguhnya tidak jauh berbeda dari gambaran id dalam teori Freud sebuah kekuatan yang tak tampak, namun senantiasa membisikkan dorongan-dorongan negatif dari dalam.
Ego = Manusia. Manusia, dalam analogi ini, menempati posisi yang persis sama dengan ego dalam teori Freud yaitu berada di tengah, sebagai penentu, dan hadir secara nyata di dunia. Manusialah yang pada akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri: apakah menuju kehidupan akhirat yang penuh rahmat atau justru terjerumus ke dalam neraka. Di titik inilah pergulatan sesungguhnya terjadi: apakah manusia akan tunduk pada dorongan id-nya yakni bujuk rayu iblis yang tak tampak ataukah ia memilih mengikuti perintah Allah yang dibawa oleh para nabi dan rasul melalui wahyu yang disampaikan lewat perantaraan malaikat.
Superego = Malaikat. Adapun malaikat berperan menyampaikan wahyu kepada para nabi, agar mereka mengerjakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Sama seperti superego, malaikat pun merupakan makhluk yang tidak tampak, namun perannya sebagai suara moral dan penuntun kebenaran sangat menentukan arah langkah manusia.
Penutup
Tentu saja, perbandingan ini bukanlah sebuah kajian ilmiah, melainkan sekadar hasil perenungan pribadi yang muncul begitu saja. Namun justru di situlah letak menariknya bahwa sebuah teori psikologi modern yang lahir dari pemikiran Barat ternyata dapat menemukan titik temu yang tidak terduga dengan gambaran pertarungan spiritual dalam kitab suci bahkan hingga pada detail siapa yang tampak dan siapa yang tidak. Keduanya, dengan caranya masing-masing, menggambarkan hal yang sama bahwa di dalam diri manusia senantiasa ada pertarungan antara yang tak terlihat, godaan dan bisikan kebaikan yang bermuara pada satu sosok yang tampak dan bertanggung jawab yaitu manusia itu sendiri, sebagai ego, sebagai pemegang kendali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar