
Faris adalah anak keem
pat dari enam bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayah kandungnya telah meninggal ketika ia masih kecil. Sejak saat itu, kehidupan keluarganya berubah. Ibunya harus bekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya. Beberapa saudaranya bahkan sempat tinggal bersama kerabat karena kondisi ekonomi yang sulit.
Beberapa tahun kemudian, ibunya menikah lagi dengan seorang pria sederhana yang bekerja sebagai buruh harian. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di desa. Rumah itu tidak besar, tetapi cukup hangat untuk ditinggali bersama.
Meski hidup dalam keterbatasan, Faris bukan anak yang bermasa
ah di sekolah. Ia dikenal sebagai anak yang pendiam, namun mudah bergaul. Guru-gurunya tidak pernah mencatat pelanggaran yang serius darinya. Nilai-nilainya memang tidak selalu menonjol, tetapi ia tidak pernah tinggal kelas.
Satu hal yang paling disukai Faris adalah sepak bola. Hampir setiap sore ia bermain di lapangan tanah dekat rumah bersama teman-temannya. Ia lincah dan cepat. Beberapa kali tim sekolahnya bahkan memenangkan pertandingan futsal antar sekolah. Ketika berada di lapangan, Faris terlihat berbeda—lebih percaya diri, lebih hidup.
Namun kehidupan seorang remaja tidak selalu berjalan lurus.
Sejak kelas empat sekolah dasar, Faris mulai memiliki telepon genggam sendiri. Awalnya itu untuk membantu sekolah daring ketika pandemi. Tetapi setelah keadaan kembali normal, telepon itu tetap berada di tangannya.
Tanpa pengawasan yang cukup, dunia kecil di layar itu perlahan membuka pintu yang seharusnya belum ia pahami.
Game online membuatnya sering menghabiskan waktu sendirian di kamar. Dari sana, ia juga tanpa sengaja menemukan berbagai video yang tidak pantas untuk anak seusianya. Rasa penasaran seorang remaja perlahan berubah menjadi kebiasaan yang diam-diam memengaruhi cara berpikirnya.
Faris sendiri tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Hingga suatu sore di bulan Juni.
Hari itu cuaca panas. Matahari sudah mulai condong ke barat ketika Faris mengirim pesan kepada seorang teman perempuan yang dikenalnya melalui media sosial. Sebut saja namanya Alya. Ia masih duduk di kelas satu SMP, lebih muda darinya.
Faris mengajaknya datang ke rumah.
Awalnya hanya untuk makan bersama dan berbincang. Namun percakapan sore itu berubah menjadi sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Dalam kebingungan, dorongan emosi, dan pengaruh dari apa yang selama ini ia tonton di layar ponselnya, Faris melakukan tindakan yang kelak akan sangat ia sesali.
Peristiwa itu terjadi begitu cepat, tetapi dampaknya tidak sederhana.
Hari-hari berikutnya menjadi awal dari masalah besar yang belum pernah dibayangkan Faris sebelumnya. Ketika keluarga Alya mengetahui apa yang terjadi, laporan dibuat ke pihak kepolisian.
Kabar itu menyebar dengan cepat di desa.
Orang-orang mulai berbisik. Sebagian merasa marah. Sebagian lain merasa khawatir. Tidak sedikit yang bertanya-tanya bagaimana dua anak seusia itu bisa terseret ke dalam peristiwa seperti itu.
Bagi Faris sendiri, dunia terasa seperti runtuh.
Ia mulai menyadari bahwa satu kesalahan dapat mengubah banyak hal dalam hidupnya. Sekolahnya terancam. Masa depannya menjadi tidak jelas. Yang paling berat adalah melihat wajah ibunya yang dipenuhi rasa sedih dan kecewa.
Ibunya tidak banyak bicara, tetapi ia tetap mendampingi Faris menghadapi proses hukum yang berjalan. Ia bahkan mendatangi keluarga Alya untuk meminta maaf.
Namun bagi keluarga Alya, luka yang terjadi tidak mudah dihapus begitu saja.
Proses hukum tetap berjalan.
Hari-hari setelah itu menjadi masa yang penuh renungan bagi Faris. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar memikirkan masa depan, kesalahan, dan tanggung jawab.
Di tempat ia menjalani pembinaan, Faris mulai belajar banyak hal. Ia kembali membaca buku. Ia lebih rajin beribadah. Kadang-kadang ia juga bermain sepak bola dengan anak-anak lain yang berada di sana.
Di dalam dirinya, perlahan tumbuh kesadaran baru.
Bahwa hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua dengan mudah, tetapi setiap manusia tetap memiliki peluang untuk berubah.
Faris tahu ia tidak bisa menghapus masa lalu. Ia juga tahu bahwa apa yang terjadi telah melukai orang lain. Namun jauh di dalam hatinya, ia menyimpan satu harapan sederhana.
Suatu hari nanti, ketika semua proses ini selesai, ia ingin kembali menjadi anak yang lebih baik.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Tetapi juga untuk ibunya yang masih percaya bahwa anaknya masih memiliki masa depan.
