Pages

Selasa, 08 September 2026

BELAJAR MENJADI AYAH YANG BAIK

Lelah setelah seharian bekerja biasanya tuntas saat kaki melangkah masuk ke dalam rumah. Namun malam itu, pemandangan di ruang tengah justru menyulut letupan amarah. Air di dalam akuarium tampak keruh. Permukaannya tertutup hamparan pelet ikan yang ditabur begitu banyak—jauh melampaui porsi wajar hingga nyaris menenggelamkan ikan-ikan hias di dalamnya.

Sebagai ayah dari dua jagoan kecil, naluri kepemimpinan saya seketika terusik. Pertanyaan pertama saya layangkan kepada si sulung. Dengan tenang ia menggeleng. Menimbang usianya yang mulai paham sebab-akibat serta konsekuensi kemarahan ayahnya, jawabannya masuk akal.

Mata saya lantas tertuju pada anak kedua. Bocah aktif dengan rasa ingin tahu yang meluap-luap.

"Bukan dedek, Ayah," jawabnya lugas.

Emosi yang bercampur lelah membuat kepala saya memanas. Saya butuh pengakuan, bukan bantahan. Dalam keadaan kalap, saya meraih raket nyamuk listrik—alat yang biasanya tergantung di dinding—lalu mengacungkannya sekadar untuk menggertak.

"Jujur, kalau tidak nanti kena setrum ini!" ancam saya.

Bocah itu bergeming. Matanya menatap saya dengan ketakutan yang kentara, tetapi bibirnya tetap mengunci rapat pengakuannya: ia bersikukuh bukan pelakunya.

Saya menarik napas panjang dan meneliti sekeliling. Wadah pakan ikan memang terletak di samping akuarium, posisi yang sangat ramah bagi jangkauan tangan mungil. Ada botol dan dua kantong pouch. Yang mengherankan, seluruh kemasan tertutup rapi tanpa ada sebutir pun pelet yang tercecer di lantai. Kerapian inilah yang membuat si kecil merasa kejahatan kecilnya tertutupi dengan sempurna.

Sadar gertakan tak mempan, akal sehat saya perlahan mengambil alih. Saya menaruh raket nyamuk itu sedikit ke belakang tubuh.

"Coba, Dedek tahu tidak cara buka dan tutup plastik makanan ikan yang ini? Coba tunjukkan ke Ayah," pinta saya dengan nada yang mulai mereda.

Tanpa curiga, jari-jari kecilnya dengan cekatan membuka klip pouch, lalu menutupnya kembali hingga rapat dan presisi. Sebuah pembuktian tanpa bantahan. Kecurigaan saya seratus persen terbukti.

Namun, tepat di saat ego saya ingin meledak untuk memenangkan perdebatan, ada bisikan hangat yang mendadak menyusup ke dada: untuk apa memenangkan amarah jika harus meremukkan hatinya?

Naluri kebapaan mengambil kemudi. Alih-alih melayangkan bentakan pamungkas, saya menyembunyikan raket nyamuk sepenuhnya ke belakang punggung, merendahkan posisi tubuh, lalu menatap matanya lembut.

"Dedek… coba bilang maaf sama Ayah kalau memang Dedek yang lakukan."

Hanya butuh satu kalimat lembut itu untuk meruntuhkan dinding pertahanan yang sedari tadi ia bangun mati-matian.

Bibir kecilnya bergetar. Air mukanya runtuh seketika. "Maaf, Ayah… Dedek kira ikannya lapar, jadi Dedek kasih makan. Tapi Dedek tidak tahu kalau tumpahnya bisa sebanyak itu…"

Mendengar kejujuran polos itu, seluruh sisa amarah saya menguap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah rasa haru yang menusuk dada. Niatnya murni: ia hanya berempati pada makhluk hidup lain, meski caranya belum tepat karena keterbatasan pengetahuannya. Gertakan keras saya tadi justru sempat membuat niat baiknya terkubur rasa takut.

Saya dekap tubuh mungilnya. "Lain kali jangan diulangi ya, Nak. Kalau mau beri makan ikan, izin dulu ke Ayah atau Ibu."

Ia mengangguk patuh dan berjanji.

Malam itu, wadah pelet ikan sengaja tetap saya letakkan di tempat yang sama, tepat di samping akuarium. Bukan karena lalai, melainkan bentuk kepercayaan saya untuk menguji komitmennya.

Di keheningan malam, saya merenung panjang menatap akuarium yang mulai tenang. Mendidik anak laki-laki bukan tentang seberapa keras kita mampu menggertak atau menundukkan mereka dengan rasa takut. Menjadi ayah adalah tentang seni menempatkan sesuatu pada tempatnya: tahu kapan harus tegas menegakkan batas, dan tahu kapan harus meletakkan senjata lalu memeluk mereka dengan kelembutan. Sebab, hati seorang anak tidak akan pernah benar-benar terbuka oleh ancaman, melainkan oleh rasa aman untuk mengakui kesalahan.

Selasa, 17 Maret 2026

Permintaan yang Tak Akan Pernah Dikabulkan

Suatu hari, ketika sedang bersantai sambil membuka aplikasi YouTube, tanpa sengaja menemukan sebuah video pendek (short) yang menampilkan seorang imam besar sedang melantunkan ayat suci dari Al-Qur'an. Suaranya tenang, merdu, dan penuh penghayatan. Ayat yang dibacanya berasal dari Surah Al-Mu’minun ayat 99–100.

 

Pada awalnya saya hanya mendengarkan sambil lalu. Namun perlahan suasana berubah. Di tengah lantunan ayat tersebut, imam itu tiba-tiba berhenti sejenak. Suaranya bergetar. Tangisnya pecah ketika membaca ayat itu. Ia mencoba melanjutkan bacaannya, tetapi air mata terus mengalir.

 

Melihat dan mendengar hal itu membuat saya terdiam. Ada sesuatu dalam ayat tersebut yang begitu menyentuh hingga membuat seorang imam besar pun tak mampu menahan tangisnya. Rasa penasaran pun muncul dalam hati saya. Apa sebenarnya makna dari ayat yang dibacanya itu?

 

Akhirnya saya mencari dan membaca terjemahannya. Ternyata terjemahan ayat tersebut berbunyi

Ayat 99:

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia).

 

Ayat 100 :

agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan." Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh1 sampai pada hari mereka dibangkitkan.

 

Setelah membaca terjemahan itu, barulah mulai memahami mengapa imam tersebut menangis ketika membacanya. Ayat itu menggambarkan penyesalan manusia yang datang terlambat—penyesalan ketika seseorang sudah berada di ambang kematian.

 

Dalam terjemahan ayat itu, menggambarkan seseorang memohon dengan sangat kepada Allah agar diberi kesempatan kembali ke dunia. Ia ingin memperbaiki kesalahannya. Ia ingin beribadah lebih banyak. Ia ingin menebus semua kelalaian yang pernah dilakukannya.

Namun permintaan itu tidak akan pernah dikabulkan. Di hadapan mereka telah ada barzakh, sebuah pembatas antara dunia dan akhirat hingga hari kebangkitan.

 

Ayat ini seakan membawa kita membayangkan sebuah momen yang sangat sunyi dan menegangkan—saat manusia berada di ujung hidupnya. Saat itu, semua kesibukan dunia yang dulu terasa begitu penting tiba-tiba menjadi tidak berarti. Harta, jabatan, kesenangan, dan kebanggaan dunia yang selama ini dikejar seakan lenyap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah penyesalan karena waktu yang diberikan Allah tidak dimanfaatkan untuk beribadah dan berbuat kebaikan.

 

Padahal, selama hidup di dunia manusia telah berkali-kali diingatkan. Sejak zaman dahulu Allah mengutus para nabi untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia. Peringatan itu disampaikan kembali oleh para ulama melalui ceramah, kajian, dan nasihat yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad. Semua itu bertujuan agar manusia tidak tersesat dalam kehidupan dunia yang sementara.

 

Namun kenyataannya, tidak semua manusia mau mendengar. Ada yang merasa bahwa kehidupan dunia masih panjang. Ada pula yang berpikir bahwa melanggar larangan Allah tidak membawa dampak apa-apa. Mereka tetap tenggelam dalam kesenangan dunia: meminum minuman keras, berbuat zalim kepada sesama, atau melakukan perbuatan yang dilarang agama. Hati mereka merasa tenang seolah-olah tidak ada yang salah. Di sinilah sebenarnya iman sedang diuji.

 

Kondisi ini sebenarnya sangat mirip dengan kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan seorang anak yang dinasihati orang tuanya sebelum keluar rumah.

 

“Jangan pulang terlalu malam,” kata sang ayah. “Di jalan tidak aman. Banyak begal sekarang.”

 

Namun nasihat itu sering dianggap sebagai hal biasa.

 

Anak tersebut berpikir, “Ah, tidak apa-apa. Saya sudah sering pulang malam dan tidak pernah terjadi apa-apa.”

 

Lalu suatu malam ia tetap pulang larut. Jalanan mulai sepi, lampu-lampu jalan redup, dan suasana terasa sunyi. Tiba-tiba beberapa orang menghadangnya di jalan. Motor yang ia kendarai dirampas, ponsel di tangannya diambil, dan ia pulang dengan perasaan takut serta menyesal.

 

Dalam hati ia berkata, “Seandainya tadi aku mendengarkan nasihat ayah… motor ini tidak akan hilang.”

 

Penyesalan seperti ini sering terjadi dalam kehidupan dunia. Kita lalai mendengar nasihat, lalu ketika musibah datang barulah kita menyadari kesalahan kita. Namun di dunia ini, penyesalan masih memiliki kesempatan untuk diperbaiki. Kita masih bisa bekerja lagi, membeli motor baru, atau memperbaiki kesalahan yang telah terjadi.

 

Tetapi keadaan di akhirat tidaklah demikian.

 

Ketika manusia telah melewati batas antara kehidupan dunia dan kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tidak ada lagi waktu untuk memperbaiki amal yang telah ditinggalkan. Saat itulah manusia menyadari bahwa kehidupan dunia sebenarnya hanyalah sebuah kesempatan yang sangat singkat untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang kekal.

Ayat dalam Surah Al-Mu’minun tersebut seakan menjadi pengingat yang sangat kuat bagi kita semua. Bahwa penyesalan terbesar bukanlah kehilangan harta, jabatan, atau kesenangan dunia. Penyesalan terbesar adalah ketika manusia menyadari bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu hidupnya tanpa memperbanyak amal dan tanpa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 

Karena itu, selama napas masih berhembus dan waktu masih diberikan oleh Allah, kesempatan untuk berubah selalu terbuka. Setiap hari adalah peluang untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan menjauhi segala larangan-Nya.

 

Sebab kelak, ketika kematian benar-benar datang, tidak ada seorang pun yang dapat kembali untuk mengulang kehidupannya.

 

Dan saat itu, satu-satunya hal yang akan kita harapkan bukanlah kembali ke dunia, melainkan semoga amal yang pernah kita lakukan cukup untuk menyelamatkan kita di hadapan Allah SWT.

 

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua. Selagi waktu masih Allah berikan, jangan menunda untuk berbuat baik, jangan menunda untuk bertaubat, dan jangan menunda untuk mendekat kepada-Nya.