Pada
awalnya saya hanya mendengarkan sambil lalu. Namun perlahan suasana berubah. Di
tengah lantunan ayat tersebut, imam itu tiba-tiba berhenti sejenak. Suaranya
bergetar. Tangisnya pecah ketika membaca ayat itu. Ia mencoba melanjutkan
bacaannya, tetapi air mata terus mengalir.
Melihat
dan mendengar hal itu membuat saya terdiam. Ada sesuatu dalam ayat tersebut
yang begitu menyentuh hingga membuat seorang imam besar pun tak mampu menahan
tangisnya. Rasa penasaran pun muncul dalam hati saya. Apa sebenarnya makna dari
ayat yang dibacanya itu?
Akhirnya
saya mencari dan membaca terjemahannya. Ternyata terjemahan ayat tersebut
berbunyi
Ayat
99:
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir
itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata,
"Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia).
Ayat 100 :
agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku
tinggalkan." Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya
saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh1 sampai pada hari mereka dibangkitkan.
Setelah
membaca terjemahan itu, barulah mulai memahami mengapa imam tersebut menangis
ketika membacanya. Ayat itu menggambarkan penyesalan manusia yang datang
terlambat—penyesalan ketika seseorang sudah berada di ambang kematian.
Dalam
terjemahan ayat itu, menggambarkan seseorang memohon dengan sangat kepada Allah
agar diberi kesempatan kembali ke dunia. Ia ingin memperbaiki kesalahannya. Ia
ingin beribadah lebih banyak. Ia ingin menebus semua kelalaian yang pernah
dilakukannya.
Namun permintaan itu tidak akan pernah
dikabulkan. Di hadapan mereka telah ada barzakh, sebuah pembatas antara dunia
dan akhirat hingga hari kebangkitan.
Ayat ini seakan membawa kita membayangkan
sebuah momen yang sangat sunyi dan menegangkan—saat manusia berada di ujung
hidupnya. Saat itu, semua kesibukan dunia yang dulu terasa begitu penting
tiba-tiba menjadi tidak berarti. Harta, jabatan, kesenangan, dan kebanggaan
dunia yang selama ini dikejar seakan lenyap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah
penyesalan karena waktu yang diberikan Allah tidak dimanfaatkan untuk beribadah
dan berbuat kebaikan.
Padahal, selama hidup di dunia manusia telah
berkali-kali diingatkan. Sejak zaman dahulu Allah mengutus para nabi untuk
menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia. Peringatan itu disampaikan kembali oleh
para ulama melalui ceramah, kajian, dan nasihat yang bersumber dari Al-Qur’an
dan sunnah Nabi Muhammad. Semua itu
bertujuan agar manusia tidak tersesat dalam kehidupan dunia yang sementara.
Namun kenyataannya, tidak semua manusia mau
mendengar. Ada yang merasa bahwa kehidupan dunia masih panjang. Ada pula yang
berpikir bahwa melanggar larangan Allah tidak membawa dampak apa-apa. Mereka
tetap tenggelam dalam kesenangan dunia: meminum minuman keras, berbuat zalim
kepada sesama, atau melakukan perbuatan yang dilarang agama. Hati mereka merasa
tenang seolah-olah tidak ada yang salah. Di sinilah sebenarnya iman sedang
diuji.
Kondisi ini sebenarnya sangat mirip dengan
kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan seorang anak yang dinasihati orang tuanya
sebelum keluar rumah.
“Jangan pulang terlalu malam,” kata sang
ayah. “Di jalan tidak aman. Banyak begal sekarang.”
Namun
nasihat itu sering dianggap sebagai hal biasa.
Anak
tersebut berpikir, “Ah, tidak apa-apa. Saya sudah sering pulang malam dan tidak
pernah terjadi apa-apa.”
Lalu suatu malam ia tetap pulang larut.
Jalanan mulai sepi, lampu-lampu jalan redup, dan suasana terasa sunyi.
Tiba-tiba beberapa orang menghadangnya di jalan. Motor yang ia kendarai
dirampas, ponsel di tangannya diambil, dan ia pulang dengan perasaan takut
serta menyesal.
Dalam hati ia berkata, “Seandainya tadi aku
mendengarkan nasihat ayah… motor ini tidak akan hilang.”
Penyesalan seperti ini sering terjadi dalam
kehidupan dunia. Kita lalai mendengar nasihat, lalu ketika musibah datang
barulah kita menyadari kesalahan kita. Namun di dunia ini, penyesalan masih
memiliki kesempatan untuk diperbaiki. Kita masih bisa bekerja lagi, membeli
motor baru, atau memperbaiki kesalahan yang telah terjadi.
Tetapi keadaan di akhirat tidaklah demikian.
Ketika manusia telah melewati batas antara
kehidupan dunia dan kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tidak
ada lagi waktu untuk memperbaiki amal yang telah ditinggalkan. Saat itulah
manusia menyadari bahwa kehidupan dunia sebenarnya hanyalah sebuah kesempatan
yang sangat singkat untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang kekal.
Ayat dalam Surah Al-Mu’minun tersebut seakan
menjadi pengingat yang sangat kuat bagi kita semua. Bahwa penyesalan terbesar
bukanlah kehilangan harta, jabatan, atau kesenangan dunia. Penyesalan terbesar
adalah ketika manusia menyadari bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu hidupnya
tanpa memperbanyak amal dan tanpa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena itu, selama napas masih berhembus dan
waktu masih diberikan oleh Allah, kesempatan untuk berubah selalu terbuka.
Setiap hari adalah peluang untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan
menjauhi segala larangan-Nya.
Sebab kelak, ketika kematian benar-benar
datang, tidak ada seorang pun yang dapat kembali untuk mengulang kehidupannya.
Dan saat itu, satu-satunya hal yang akan kita
harapkan bukanlah kembali ke dunia, melainkan semoga amal yang pernah kita
lakukan cukup untuk menyelamatkan kita di hadapan Allah SWT.
Semoga tulisan ini menjadi
pengingat bagi kita semua. Selagi waktu masih Allah berikan, jangan menunda
untuk berbuat baik, jangan menunda untuk bertaubat, dan jangan menunda untuk
mendekat kepada-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar