Pages

Kamis, 10 September 2026

Stimulasi Motorik Halus dan Persepsi Spasial Anak Usia Dini Melalui Aktivitas Mewarnai dan Kolase

Masa usia dini kerap dipahami semata sebagai panggung tawa dan kepolosan gerak. Namun, di balik setiap coretan krayon yang melintasi kertas putih dan remah-remah kertas yang direkat perlahan menjadi kolase, tersimpan proses biologis dan kognitif yang luar biasa kompleks. Bagi seorang anak, selembar kertas bukan sekadar ruang bermain kosong, melainkan laboratorium visual tempat jari-jemari belajar bernegosiasi dengan dunia nyata.

Ketika tangan mungil menggenggam krayon, sistem saraf pusat, persepsi visual, dan otot-otot halus di pergelangan tangan bekerja serempak dalam ritme yang presisi. Gerakan menekan, mengarsir, hingga menahan batas garis adalah bentuk paling mula dari latihan disiplin spasial dan kendali diri. Begitu pula saat mereka merobek, menjumput, dan menempelkan serpihan bahan menjadi sebidang kolase—ujung-ujung jari menyerap rangsang taktil yang kaya, melatih ketangkasan motorik halus yang kelak menjadi fondasi bagi kemandirian mereka: memegang pensil untuk menulis kalimat pertama, mengancing baju, hingga memecahkan masalah ruang dan bentuk.

Mewarnai dan membuat kolase tidak boleh dipandang remeh sebatas aktivitas pengisi waktu senggang. Keduanya adalah jembatan emas yang menghubungkan sensori dengan imajinasi, ketelitian dengan ketekunan, serta ekspresi emosi dengan kematangan motorik. Tulisan ini hadir untuk mengurai simpul-simpul keterhubungan tersebut—menunjukkan bagaimana sentuhan warna dan paduan tekstur mampu meletakkan fondasi terpenting bagi tumbuh kembang holistik seorang anak sejak langkah pertamanya.


Yuk, simpan materinya buat referensi kegiatan si kecil di rumah. Klik UNDUH sekarang!





Selasa, 08 September 2026

BELAJAR MENJADI AYAH YANG BAIK

Lelah setelah seharian bekerja biasanya tuntas saat kaki melangkah masuk ke dalam rumah. Namun malam itu, pemandangan di ruang tengah justru menyulut letupan amarah. Air di dalam akuarium tampak keruh. Permukaannya tertutup hamparan pelet ikan yang ditabur begitu banyak—jauh melampaui porsi wajar hingga nyaris menenggelamkan ikan-ikan hias di dalamnya.

Sebagai ayah dari dua jagoan kecil, naluri kepemimpinan saya seketika terusik. Pertanyaan pertama saya layangkan kepada si sulung. Dengan tenang ia menggeleng. Menimbang usianya yang mulai paham sebab-akibat serta konsekuensi kemarahan ayahnya, jawabannya masuk akal.

Mata saya lantas tertuju pada anak kedua. Bocah aktif dengan rasa ingin tahu yang meluap-luap.

"Bukan dedek, Ayah," jawabnya lugas.

Emosi yang bercampur lelah membuat kepala saya memanas. Saya butuh pengakuan, bukan bantahan. Dalam keadaan kalap, saya meraih raket nyamuk listrik—alat yang biasanya tergantung di dinding—lalu mengacungkannya sekadar untuk menggertak.

"Jujur, kalau tidak nanti kena setrum ini!" ancam saya.

Bocah itu bergeming. Matanya menatap saya dengan ketakutan yang kentara, tetapi bibirnya tetap mengunci rapat pengakuannya: ia bersikukuh bukan pelakunya.

Saya menarik napas panjang dan meneliti sekeliling. Wadah pakan ikan memang terletak di samping akuarium, posisi yang sangat ramah bagi jangkauan tangan mungil. Ada botol dan dua kantong pouch. Yang mengherankan, seluruh kemasan tertutup rapi tanpa ada sebutir pun pelet yang tercecer di lantai. Kerapian inilah yang membuat si kecil merasa kejahatan kecilnya tertutupi dengan sempurna.

Sadar gertakan tak mempan, akal sehat saya perlahan mengambil alih. Saya menaruh raket nyamuk itu sedikit ke belakang tubuh.

"Coba, Dedek tahu tidak cara buka dan tutup plastik makanan ikan yang ini? Coba tunjukkan ke Ayah," pinta saya dengan nada yang mulai mereda.

Tanpa curiga, jari-jari kecilnya dengan cekatan membuka klip pouch, lalu menutupnya kembali hingga rapat dan presisi. Sebuah pembuktian tanpa bantahan. Kecurigaan saya seratus persen terbukti.

Namun, tepat di saat ego saya ingin meledak untuk memenangkan perdebatan, ada bisikan hangat yang mendadak menyusup ke dada: untuk apa memenangkan amarah jika harus meremukkan hatinya?

Naluri kebapaan mengambil kemudi. Alih-alih melayangkan bentakan pamungkas, saya menyembunyikan raket nyamuk sepenuhnya ke belakang punggung, merendahkan posisi tubuh, lalu menatap matanya lembut.

"Dedek… coba bilang maaf sama Ayah kalau memang Dedek yang lakukan."

Hanya butuh satu kalimat lembut itu untuk meruntuhkan dinding pertahanan yang sedari tadi ia bangun mati-matian.

Bibir kecilnya bergetar. Air mukanya runtuh seketika. "Maaf, Ayah… Dedek kira ikannya lapar, jadi Dedek kasih makan. Tapi Dedek tidak tahu kalau tumpahnya bisa sebanyak itu…"

Mendengar kejujuran polos itu, seluruh sisa amarah saya menguap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah rasa haru yang menusuk dada. Niatnya murni: ia hanya berempati pada makhluk hidup lain, meski caranya belum tepat karena keterbatasan pengetahuannya. Gertakan keras saya tadi justru sempat membuat niat baiknya terkubur rasa takut.

Saya dekap tubuh mungilnya. "Lain kali jangan diulangi ya, Nak. Kalau mau beri makan ikan, izin dulu ke Ayah atau Ibu."

Ia mengangguk patuh dan berjanji.

Malam itu, wadah pelet ikan sengaja tetap saya letakkan di tempat yang sama, tepat di samping akuarium. Bukan karena lalai, melainkan bentuk kepercayaan saya untuk menguji komitmennya.

Di keheningan malam, saya merenung panjang menatap akuarium yang mulai tenang. Mendidik anak laki-laki bukan tentang seberapa keras kita mampu menggertak atau menundukkan mereka dengan rasa takut. Menjadi ayah adalah tentang seni menempatkan sesuatu pada tempatnya: tahu kapan harus tegas menegakkan batas, dan tahu kapan harus meletakkan senjata lalu memeluk mereka dengan kelembutan. Sebab, hati seorang anak tidak akan pernah benar-benar terbuka oleh ancaman, melainkan oleh rasa aman untuk mengakui kesalahan.

Selasa, 17 Maret 2026

Permintaan yang Tak Akan Pernah Dikabulkan

Suatu hari, ketika sedang bersantai sambil membuka aplikasi YouTube, tanpa sengaja menemukan sebuah video pendek (short) yang menampilkan seorang imam besar sedang melantunkan ayat suci dari Al-Qur'an. Suaranya tenang, merdu, dan penuh penghayatan. Ayat yang dibacanya berasal dari Surah Al-Mu’minun ayat 99–100.

 

Pada awalnya saya hanya mendengarkan sambil lalu. Namun perlahan suasana berubah. Di tengah lantunan ayat tersebut, imam itu tiba-tiba berhenti sejenak. Suaranya bergetar. Tangisnya pecah ketika membaca ayat itu. Ia mencoba melanjutkan bacaannya, tetapi air mata terus mengalir.

 

Melihat dan mendengar hal itu membuat saya terdiam. Ada sesuatu dalam ayat tersebut yang begitu menyentuh hingga membuat seorang imam besar pun tak mampu menahan tangisnya. Rasa penasaran pun muncul dalam hati saya. Apa sebenarnya makna dari ayat yang dibacanya itu?

 

Akhirnya saya mencari dan membaca terjemahannya. Ternyata terjemahan ayat tersebut berbunyi

Ayat 99:

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia).

 

Ayat 100 :

agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan." Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh1 sampai pada hari mereka dibangkitkan.

 

Setelah membaca terjemahan itu, barulah mulai memahami mengapa imam tersebut menangis ketika membacanya. Ayat itu menggambarkan penyesalan manusia yang datang terlambat—penyesalan ketika seseorang sudah berada di ambang kematian.

 

Dalam terjemahan ayat itu, menggambarkan seseorang memohon dengan sangat kepada Allah agar diberi kesempatan kembali ke dunia. Ia ingin memperbaiki kesalahannya. Ia ingin beribadah lebih banyak. Ia ingin menebus semua kelalaian yang pernah dilakukannya.

Namun permintaan itu tidak akan pernah dikabulkan. Di hadapan mereka telah ada barzakh, sebuah pembatas antara dunia dan akhirat hingga hari kebangkitan.

 

Ayat ini seakan membawa kita membayangkan sebuah momen yang sangat sunyi dan menegangkan—saat manusia berada di ujung hidupnya. Saat itu, semua kesibukan dunia yang dulu terasa begitu penting tiba-tiba menjadi tidak berarti. Harta, jabatan, kesenangan, dan kebanggaan dunia yang selama ini dikejar seakan lenyap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah penyesalan karena waktu yang diberikan Allah tidak dimanfaatkan untuk beribadah dan berbuat kebaikan.

 

Padahal, selama hidup di dunia manusia telah berkali-kali diingatkan. Sejak zaman dahulu Allah mengutus para nabi untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia. Peringatan itu disampaikan kembali oleh para ulama melalui ceramah, kajian, dan nasihat yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad. Semua itu bertujuan agar manusia tidak tersesat dalam kehidupan dunia yang sementara.

 

Namun kenyataannya, tidak semua manusia mau mendengar. Ada yang merasa bahwa kehidupan dunia masih panjang. Ada pula yang berpikir bahwa melanggar larangan Allah tidak membawa dampak apa-apa. Mereka tetap tenggelam dalam kesenangan dunia: meminum minuman keras, berbuat zalim kepada sesama, atau melakukan perbuatan yang dilarang agama. Hati mereka merasa tenang seolah-olah tidak ada yang salah. Di sinilah sebenarnya iman sedang diuji.

 

Kondisi ini sebenarnya sangat mirip dengan kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan seorang anak yang dinasihati orang tuanya sebelum keluar rumah.

 

“Jangan pulang terlalu malam,” kata sang ayah. “Di jalan tidak aman. Banyak begal sekarang.”

 

Namun nasihat itu sering dianggap sebagai hal biasa.

 

Anak tersebut berpikir, “Ah, tidak apa-apa. Saya sudah sering pulang malam dan tidak pernah terjadi apa-apa.”

 

Lalu suatu malam ia tetap pulang larut. Jalanan mulai sepi, lampu-lampu jalan redup, dan suasana terasa sunyi. Tiba-tiba beberapa orang menghadangnya di jalan. Motor yang ia kendarai dirampas, ponsel di tangannya diambil, dan ia pulang dengan perasaan takut serta menyesal.

 

Dalam hati ia berkata, “Seandainya tadi aku mendengarkan nasihat ayah… motor ini tidak akan hilang.”

 

Penyesalan seperti ini sering terjadi dalam kehidupan dunia. Kita lalai mendengar nasihat, lalu ketika musibah datang barulah kita menyadari kesalahan kita. Namun di dunia ini, penyesalan masih memiliki kesempatan untuk diperbaiki. Kita masih bisa bekerja lagi, membeli motor baru, atau memperbaiki kesalahan yang telah terjadi.

 

Tetapi keadaan di akhirat tidaklah demikian.

 

Ketika manusia telah melewati batas antara kehidupan dunia dan kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tidak ada lagi waktu untuk memperbaiki amal yang telah ditinggalkan. Saat itulah manusia menyadari bahwa kehidupan dunia sebenarnya hanyalah sebuah kesempatan yang sangat singkat untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang kekal.

Ayat dalam Surah Al-Mu’minun tersebut seakan menjadi pengingat yang sangat kuat bagi kita semua. Bahwa penyesalan terbesar bukanlah kehilangan harta, jabatan, atau kesenangan dunia. Penyesalan terbesar adalah ketika manusia menyadari bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu hidupnya tanpa memperbanyak amal dan tanpa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 

Karena itu, selama napas masih berhembus dan waktu masih diberikan oleh Allah, kesempatan untuk berubah selalu terbuka. Setiap hari adalah peluang untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan menjauhi segala larangan-Nya.

 

Sebab kelak, ketika kematian benar-benar datang, tidak ada seorang pun yang dapat kembali untuk mengulang kehidupannya.

 

Dan saat itu, satu-satunya hal yang akan kita harapkan bukanlah kembali ke dunia, melainkan semoga amal yang pernah kita lakukan cukup untuk menyelamatkan kita di hadapan Allah SWT.

 

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua. Selagi waktu masih Allah berikan, jangan menunda untuk berbuat baik, jangan menunda untuk bertaubat, dan jangan menunda untuk mendekat kepada-Nya.
 

Rabu, 11 Maret 2026

“Seumur Hidup untuk Satu Kesalahan”

Di sebuah sudut kota yang ramai di Pulau Sumatra, hiduplah seorang pemuda bernama Rafi. Ia lahir pada awal tahun 2000-an dari keluarga sederhana yang tinggal di sebuah rumah kecil di lingkungan padat penduduk. Rumah itu bukanlah rumah mewah, tetapi penuh kenangan dan perjuangan.

Ayahnya adalah seorang pekerja bangunan yang setiap hari berangkat pagi dan pulang menjelang malam dengan tubuh penuh debu semen. Ibunya membuka usaha kecil-kecilan menjual sarapan di depan rumah. Dari usaha sederhana itu, keluarganya bertahan hidup.

Rafi adalah anak bungsu. Ia tumbuh di tengah kasih sayang kel
uarga dan kakak-kakaknya yang selalu berusaha menjaganya. Masa kecilnya berjalan seperti anak-anak lain. Ia bermain, bersekolah, dan sesekali membantu ibunya di rumah.

Namun sejak remaja, Rafi memiliki jiwa yang berbeda. Ia senang berdagang. Saat masih duduk di bangku SMP, ia sudah mulai mencoba berjualan handphone bekas. Tidak jarang ia juga membantu orang menjual sepeda motor second.

Bagi Rafi, berdagang terasa menyenangkan. Ia merasa bangga bisa menghasilkan uang sendiri.

Dari aktivitas itu pula ia mulai mengenal banyak orang. Awalnya hanya sekadar relasi bisnis. Tetapi perlahan, lingkaran pergaulannya semakin luas. Ia bertemu berbagai karakter manusia.

Sayangnya, tidak semua pergaulan membawa kebaikan.

Di antara orang-orang yang ia kenal, ada seseorang yang kemudian membawa hidupnya ke jalan yang salah. Awalnya hanya sekadar ikut berkumpul. Kemudian mulai diajak membantu hal-hal kecil. Sampai akhirnya tanpa benar-benar menyadari konsekuensinya, Rafi terseret ke dalam jaringan peredaran narkotika.

Saat itu usianya masih sangat muda. Ia tidak benar-benar memahami betapa besar risiko yang sedang ia hadapi.

Hari-hari berjalan seperti biasa, sampai suatu malam semuanya berubah.

Petugas datang.

Rafi ditangkap.

Dunia yang selama ini ia kenal seakan runtuh dalam sekejap. Ia melihat ibunya menangis. Ia melihat keluarga yang selama ini selalu mendukungnya kini harus menanggung rasa malu dan sedih.

Beberapa waktu kemudian, pengadilan menjatuhkan putusan yang sangat berat.

Penjara seumur hidup.

Saat palu hakim diketuk, Rafi hanya terdiam. Ia merasa hidupnya seolah berhenti di titik itu. Masa depan yang pernah ia bayangkan tiba-tiba menghilang.

Hari-hari berikutnya ia jalani di sebuah lembaga pemasyarakatan dengan tingkat keamanan sangat tinggi di sebuah pulau terpencil. Tempat itu dikenal keras, sunyi, dan penuh cerita kehidupan para narapidana.

Awalnya Rafi merasa putus asa.

Ia sering memikirkan ibunya yang kini harus hidup sendirian setelah ayahnya meninggal beberapa tahun kemudian. Ia juga memikirkan masa mudanya yang seolah hilang begitu saja.

Namun perlahan waktu mengajarkannya sesuatu.

Di dalam penjara, Rafi mulai banyak merenung. Ia mulai mendekatkan diri pada Tuhan. Ia rajin mengikuti kegiatan keagamaan dan berusaha memperbaiki dirinya.

Ia sadar satu hal.

Kesalahan memang telah terjadi, tetapi hidup tidak boleh berhenti.

Hari demi hari ia jalani dengan lebih tenang. Ia belajar mengendalikan emosi, menghormati petugas, dan menjaga hubungan baik dengan sesama narapidana. Selama bertahun-tahun menjalani pembinaan. 

Ibunya pun tetap setia menunggu.

Walau hanya melalui panggilan video sesekali, sang ibu selalu memberi semangat.

“Yang penting kamu berubah menjadi lebih baik,” kata ibunya suatu hari dengan suara yang bergetar.

Waktu terus berjalan.

Lima tahun berlalu.

Rafi kini bukan lagi pemuda yang sama seperti dulu. Ia lebih dewasa, lebih tenang, dan lebih memahami arti tanggung jawab.

Di luar sana, masyarakat yang dulu mengenalnya juga tidak menutup pintu. Mereka tahu Rafi sebenarnya bukan anak yang bermasalah. Ia hanya pernah tersesat oleh pergaulan yang salah.

Bagi Rafi, harapan kini menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Ia tidak lagi bermimpi tentang kekayaan atau kesuksesan besar. Satu hal yang ia inginkan hanyalah kesempatan.

Kesempatan untuk menebus kesalahan.

Kesempatan untuk kembali menjadi anak yang bisa membanggakan ibunya.

Dan kesempatan untuk membuktikan bahwa seseorang yang pernah jatuh, masih bisa bangkit kembali.

Karena terkadang dalam hidup, satu kesalahan bisa menghancurkan masa depan.

Namun kesadaran dan perubahan dapat membuka jalan menuju kehidupan yang baru.

Senin, 09 Maret 2026

Satu Kesalahan, Masa Depan Berantakan

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi rawa dan kebun kelapa di pesisir timur Sumatra, hiduplah seorang anak remaja bernama Faris. Usianya baru lima belas tahun. Tubuhnya kurus, wajahnya masih menyimpan kepolosan masa kanak-kanak, tetapi matanya sering terlihat memikirkan banyak hal.

Faris adalah anak keem
pat dari enam bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayah kandungnya telah meninggal ketika ia masih kecil. Sejak saat itu, kehidupan keluarganya berubah. Ibunya harus bekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya. Beberapa saudaranya bahkan sempat tinggal bersama kerabat karena kondisi ekonomi yang sulit.

Beberapa tahun kemudian, ibunya menikah lagi dengan seorang pria sederhana yang bekerja sebagai buruh harian. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di desa. Rumah itu tidak besar, tetapi cukup hangat untuk ditinggali bersama.

Meski hidup dalam keterbatasan, Faris bukan anak yang bermasa
ah di sekolah. Ia dikenal sebagai anak yang pendiam, namun mudah bergaul. Guru-gurunya tidak pernah mencatat pelanggaran yang serius darinya. Nilai-nilainya memang tidak selalu menonjol, tetapi ia tidak pernah tinggal kelas.

Satu hal yang paling disukai Faris adalah sepak bola. Hampir setiap sore ia bermain di lapangan tanah dekat rumah bersama teman-temannya. Ia lincah dan cepat. Beberapa kali tim sekolahnya bahkan memenangkan pertandingan futsal antar sekolah. Ketika berada di lapangan, Faris terlihat berbeda—lebih percaya diri, lebih hidup.

Namun kehidupan seorang remaja tidak selalu berjalan lurus.

Sejak kelas empat sekolah dasar, Faris mulai memiliki telepon genggam sendiri. Awalnya itu untuk membantu sekolah daring ketika pandemi. Tetapi setelah keadaan kembali normal, telepon itu tetap berada di tangannya.

Tanpa pengawasan yang cukup, dunia kecil di layar itu perlahan membuka pintu yang seharusnya belum ia pahami.

Game online membuatnya sering menghabiskan waktu sendirian di kamar. Dari sana, ia juga tanpa sengaja menemukan berbagai video yang tidak pantas untuk anak seusianya. Rasa penasaran seorang remaja perlahan berubah menjadi kebiasaan yang diam-diam memengaruhi cara berpikirnya.

Faris sendiri tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Hingga suatu sore di bulan Juni.

Hari itu cuaca panas. Matahari sudah mulai condong ke barat ketika Faris mengirim pesan kepada seorang teman perempuan yang dikenalnya melalui media sosial. Sebut saja namanya Alya. Ia masih duduk di kelas satu SMP, lebih muda darinya.

Faris mengajaknya datang ke rumah.

Awalnya hanya untuk makan bersama dan berbincang. Namun percakapan sore itu berubah menjadi sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Dalam kebingungan, dorongan emosi, dan pengaruh dari apa yang selama ini ia tonton di layar ponselnya, Faris melakukan tindakan yang kelak akan sangat ia sesali.

Peristiwa itu terjadi begitu cepat, tetapi dampaknya tidak sederhana.

Hari-hari berikutnya menjadi awal dari masalah besar yang belum pernah dibayangkan Faris sebelumnya. Ketika keluarga Alya mengetahui apa yang terjadi, laporan dibuat ke pihak kepolisian.

Kabar itu menyebar dengan cepat di desa.

Orang-orang mulai berbisik. Sebagian merasa marah. Sebagian lain merasa khawatir. Tidak sedikit yang bertanya-tanya bagaimana dua anak seusia itu bisa terseret ke dalam peristiwa seperti itu.

Bagi Faris sendiri, dunia terasa seperti runtuh.

Ia mulai menyadari bahwa satu kesalahan dapat mengubah banyak hal dalam hidupnya. Sekolahnya terancam. Masa depannya menjadi tidak jelas. Yang paling berat adalah melihat wajah ibunya yang dipenuhi rasa sedih dan kecewa.

Ibunya tidak banyak bicara, tetapi ia tetap mendampingi Faris menghadapi proses hukum yang berjalan. Ia bahkan mendatangi keluarga Alya untuk meminta maaf.

Namun bagi keluarga Alya, luka yang terjadi tidak mudah dihapus begitu saja.

Proses hukum tetap berjalan.

Hari-hari setelah itu menjadi masa yang penuh renungan bagi Faris. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar memikirkan masa depan, kesalahan, dan tanggung jawab.

Di tempat ia menjalani pembinaan, Faris mulai belajar banyak hal. Ia kembali membaca buku. Ia lebih rajin beribadah. Kadang-kadang ia juga bermain sepak bola dengan anak-anak lain yang berada di sana.

Di dalam dirinya, perlahan tumbuh kesadaran baru.

Bahwa hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua dengan mudah, tetapi setiap manusia tetap memiliki peluang untuk berubah.

Faris tahu ia tidak bisa menghapus masa lalu. Ia juga tahu bahwa apa yang terjadi telah melukai orang lain. Namun jauh di dalam hatinya, ia menyimpan satu harapan sederhana.

Suatu hari nanti, ketika semua proses ini selesai, ia ingin kembali menjadi anak yang lebih baik.

Bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Tetapi juga untuk ibunya yang masih percaya bahwa anaknya masih memiliki masa depan.

Rabu, 25 Februari 2026

POV : SAAT MANUSIA DIKALAHKAN OLEH SEEKOR GAGAK

Ayat yang terdapat dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surat Al-Ma'idah ayat 31, mengisahkan peristiwa setelah Qabil membunuh saudaranya, Habil. Dalam kondisi kebingungan dan penyesalan, Allah mengirimkan seekor burung gagak yang menggali tanah untuk memperlihatkan kepadanya cara menguburkan jasad saudaranya. Peri6tiwa tersebut bukan sekadar kisah historis, melainkan sarat dengan pelajaran mendalam bagi umat manusia.

Secara reflektif, ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang senantiasa belajar. Bahkan dalam momen kelam yang dipenuhi kesalahan dan dosa, tetap terdapat ruang untuk memperoleh pelajaran. Qabil, yang telah melakukan perbuatan tercela, tetap diberi kesempatan untuk memahami tata cara memperlakukan jenazah secara layak. Dari peristiwa itu, umat manusia—khususnya umat Islam—mendapatkan petunjuk mengenai salah satu bagian penting dalam penyelenggaraan jenazah, yaitu proses penguburan.

Lebih jauh lagi, ayat ini mengandung pesan universal tentang relasi manusia dengan alam semesta. Allah tidak hanya menjadikan alam sebagai tempat tinggal manusia, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran. Seekor burung gagak, makhluk yang sering dipandang sederhana, justru menjadi perantara ilmu bagi manusia. Hal ini menegaskan bahwa hikmah dapat hadir melalui apa saja, termasuk melalui fenomena alam dan perilaku makhluk hidup di sekitar kita.

Dengan demikian, ayat tersebut mengajarkan nilai kerendahan hati dalam belajar. Manusia, betapapun tinggi kedudukannya, tetap memerlukan petunjuk dan dapat mengambil pelajaran dari ciptaan Allah lainnya. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan ayat-ayat kauniyah—tanda-tanda kebesaran Tuhan—yang dapat direnungkan.

Refleksi ini mengajak kita untuk membangun kesadaran bahwa proses belajar tidak pernah berhenti. Dari peristiwa, dari kesalahan, bahkan dari makhluk lain, manusia dapat menemukan pengetahuan dan hikmah. Pada akhirnya, kisah tersebut bukan hanya tentang penyesalan Qabil, tetapi juga tentang bagaimana Allah membimbing manusia melalui alam agar memahami nilai kemanusiaan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kehidupan.


Senin, 30 Desember 2024

REPOST : Sedikit banyak tentang perparkiran (in my humble opinion)

Tulisan ini pernah saya posting sebelumnya pada tanggal 16 Januari 2013 namun kembali saya angkat kembali karena pengalaman pribadi saya saat ini.

Melalui tulisan ini saya mencoba menuangkan unek-unek seputar dunia perpakiran, terlepas itu benar atau salah, yang penting tersalurkan.

Maraknya juru parkir serta lahan parkir yang ada khususnya di kota Pekanbaru, menimbulkan sebuah pertanyaan, kemanakah setoran uang parkir tersebut?bisa jadi sebagian setoran parkir tersebut berubah fungsi menjadi pungli oleh oknum dan sebagian lagi bisa jadi di kas pemerintahan daerah setempat. Mungkin anggapan orang banyak mengenai hal ini terlebih mengenai setoran parkir sudah lumrah atau sudah biasa, ya beginilah keadaannya.

Kembali ke persoalan perparkiran agak tidak panjang lebar, yang membuat saya tertarik untuk membuat tulisan ini ialah sebagai berikut :
Seorang juru parkir yang resmi (memakai atribut perparkiran seperti badge, seragam, peluit dan sebagainya) masing-masing memiliki tiket/karcis parkir yang akan dibagikan kepada pengunjung atau pemilik kendaraan yang akan parkir. Menurut terkaan saya, pihak pengelola parkir dalam hal ini pemerintahan yang resmi telah menjatah karcis tersebut artinya jumlah uang setoran yang akan disetor kepada pihak pengelola harus sama dengan jumlah karcis parkir yang telah dibagikan kepada juru parkir.

Begini, menurut hemat saya kita tidak terlalu begitu peduli dengan karcis tersebut, toh uang parkir juga cuman seribuan, duaribuan, tiga ribuan, dan seterusnya, kita tidak mempermasalahkan hal tersebut, ketika kita membayar uang parkir kita tidak mengambil karcis, padahal karcis itu juga hak kita, tidak ada karcis tidak ada uang, no ticket, no money :D , seharusnya begitu (khusus untuk parkir resmi).
Seandainya saja ratusan orang di suatu tempat pusat keramaian dalam sehari membayar uang parkir kepada juru parkir yang telah dijatah karcis parkir.

Misalnya seorang petugas parkir memiliki 200 karcis yang terdiri 100 karcis parkir untuk sepeda motor & 100 karcis parkir untuk mobil, jadi mereka harus menyetor uang parkir ke pihak pengelola parkir sebesar Rp. 500.000 (satu kali parkir sepeda motor yaitu Rp.2.000 & mobil sekali parkir Rp. 3.000), seandainya saja pada hari itu jumlah pengunjung melebihi karcis parkir yang ada, mungkin saja uang yang yang seharusnya disetor ke pihak pengelola dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu.

Jadi sebaiknya jika kita membayar uang parkir sebaiknya kita juga meminta karcis, karena itu juga hak kita bahwasannya kita telah membayar parkir, selain itu mungkin saja hal itu juga bisa meminimalisir penggelapan uang setoran parkir oleh oknum-oknum tertentu, yah sekali-sekali ribut dengan tukang parkir tak masalah lah..hehehe, kelihatannya sih tolol hanya karena uang parkir yang cuma "receh", kita sampai ribut dengan perugas parkir, tapi kan itu juga hak kita, seharusnya, kita berhak, dan berharap tindakan tersebut dapat mengurangi tindakan penggelapan dana.

Demikianlah tulisan singkat saya ini, mudah-mudahan bermanfaat, kalau tidak ya juga tidak masalah yang penting unek-unek saya keluar :D
Sekian....

Sabtu, 04 Juni 2016

HAL UNIK DALAM SHALAT BERJAMAAH

Ada yang menarik saat pelaksanaan shalat berjamaah, terutama pada shalat Jum’at. Kenapa?karena shalat Jum’at hukumnya wajib bagi lak-laki sehingga jumlah jamaah yang hadir lebih banyak ketimbang shalat berjamaah lainnya dan dikarenakan jumlah jamaah yang ramai sehingga panitia shalat Jumat maupun imam yang memimpin shalat Jumat memberitahukan atau mengingatkan jamaah untuk tertib dan memperhatikan tata cara shalat berjamaah. Pada awalnya  tampak seperti biasa ketika Azan dikumandangkan, kemudian khatib memberikan ceramah kepada jamaah shalat Jum’at yang membuat menarik perhatian adalah ketika shalat Jum’at dimulai. Oleh Imam shalat Jum’at para jamaah diminta untuk meluruskan dan merapatkan shaf, memperhatikan shaf-shaf yang kosong untuk segera di isi. 

Kejadian yang menjadi perhatian adalah ketika shaf ada yang kosong kebanyakan jamaah yang berada dibelakangnya enggan untuk mengisi shaf yang kosong tersebut dan malah mempersilahkan jamaah yang berada di samping kanan atau samping kirinya untuk mengisi shaf tersebut. Apa yang terjadi? Kenapa jamaah tersebut enggan untuk mengisi shaf yang kosong tersebut dan malah mempersilahkan jamaah lainnya.
Saya memang tidak begitu mengetahui sampai ke hadis-hadisnya mengenai shaf ini, namun sepanjang sepengetahuan saya mengenai shalat berjamaah adalah wajib bagi jamaah untuk meluruskan dan mengisi shaf yang kosong, diwajibkan bagi jamaah untuk mengisi terlebih dahulu shaf yang pertama kemudian menyusul shaf yang kedua dan selanjutnya sampai semua shaf terpenuhi.

Saya menilai jamaah yang malah mempersilahkan jamaah lain untuk mengisi shaf yang kosong tersebut tidak mempunyai kesadaran diri dan mungkin bisa dibilang belum mengetahui banyak soal tata cara shalat berjamaah, memangnya ada larangan atau dosa kalau meninggalkan shaf yang kosong setelah ia meninggalkan shafnya dan mengisi shaf kosong yang berada di depannya? Malah terkadang yang membuat kesal, lucu karena kelakuan mereka ada jamaah yang dipersilahkan untuk mengisi shaf tersebut juga balik mempersilahkan jamaah yang memepersilahkan pertama sehingga kesannya tolak-menolak seperti magnet yang beradu kutub yang sama karena tak kunjung terisi akibat kedua jamaah saling tolak menolak jamaah lain segera mengisinya.

Entah dari mana kebiasaan ini muncul menyuruh mengisi shaf yang kosong padahal ia tepat berada dibelakangnya padahal pelaksanaan shalat berjamaah mempunyai tata cara. Bukan kali ini saja saya melihatnya mungkin semenjak saya mengikuti shalat Jumat berjamaah tanpa disadari kejadian ini selalu ada. Dalam hati saya bertanya-tanya bagaimana cara menyadarkan jamaah seperti ini. Mungkin dari saya agar ceramah mengenai tata cara shalat berjamaah ini dibuat sesering mungkin sekaligus mengingatkan serta dimasukkan kedalam tema khotbah Jumat dan dalam ceramah tersebut bisa ditambah dengan kata-kata sindiran untuk jamaah-jamaah yang menyuruh mengisi shaf yang kosong.

Semoga mereka yang seperti ini pada sadar. Amiiiiiiiinnn.

Senin, 02 Mei 2016

Arti Dari Jenjang Pendidikan

Pentingkah Pendidikan?

Pertanyaan ini dilontarkan oleh saudara saya, apa arti sebuah pendidikan dan tingkat pendidikan dalam kehidupan?dalam pekerjaan?dalam kehidupan sehari-hari? Ya, begitulah kira-kira pertanyaan  yang dilontarkan oleh saudara saya tersebut. Pertanyaan tersebut muncul dikarenakan kekecewaannya pada bangku pendidikan yang Ia dapatkan saat ini, kurikulum yang digunakan sekolahnya kalau tidak salah kurikulum 2013 (K-13).

Apa itu kurikulum 2013 (K-13)? dikutip dari wikipedia kurikulum 2013 masuk dalam masa percobaannya pada tahun 2013 dengan menjadikan beberapa sekolah menjadi sekolah rintisan kurikulum 2013 ini menggantikan kurikulum 2006. Kurikulum 2013 ini memiliki empat aspek penilaian yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku, dimana ada materi yang dirampingkan seperti Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb dan ada materi yang ditambahkan yaitu salah satunya matematika dengan penyesuaian dengan materi pembalajaran internasional dengan harapan bisa seimbang antara pendidikan dalam negeri dengan luar negeri.

Dikutip dari website guru.or.id mengenai kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap dalam menghadapi masa depan sehingga kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Intinya lebih kepada mendorong siswa mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan apa yang mereka peroleh atau yang diketahui oleh siswa setelah menerima materi pembelajaran.

Dari penjelasan-penjelasan tersebut saya berkesimpulan kurikulum 2013 ini hampir mendekati sistem pembalajaran di perkuliahan dimana mahasiswa yang lebih aktif dalam pembalajaran baik itu cara berpikir, ide, presentasi, analisa, dan lain sebagainya yang diberikan oleh dosen, peran dosen ibaratnya seperti membimbing ke jalan yang benar ilmu pengetahuan yang sedang dipelajari.

Nah, kembali ke kurikulum 2013 (K-13) untuk mendukung kurikulum 2013 ini diperlukan profesionalitas seorang guru, disinilah baru timbul masalah yang dihadapi oleh saudara saya tersebut. guru seringkali lepas tangan dalam proses pembelajaran tersebut, adanya pembiaran proses belajar yang tidak terkontrol, ketika seorang murid ingin bertanya dan ingin berdiskusi dengan guru mengenai gagasan, observasi materi pembelajaran yang didapat, lebih banyak ketidaktahuan atau penguasaan guru terhadap materi yang diberikan. Tak jarang saudara saya menganggap lebih pintar murid ketimbang guru. Kurikulum 2013 bisa terwujud dengan diiringi profesionalitas dan tanggung jawab yang baik oleh seorang guru.

Dari sinilah saudara saya menganggap seberapa penting pendidikan dan tingkat pendidikan yang didapat oleh seseorang dalam pekerjaan? dalam kehidupan? toh, walaupun pendidikan seseorang tinggi tetapi tidak diimbangi dengan kualitas manusianya sama saja tidak ada apa-apanya. Lebih baik lulusan SMA tapi mempunyai skill ketimbang lulusan S1 tetapi tidak mempunyai skill ya begitulah kira-kira curhatan saudara saya berhubung ybs akan menamatkan pendidikan SMK nya.

Dari curhatannya tersebut saya coba memberi masukan, memang kualitas manusia menentukan keberhasilan, tapi alangkah lebih baik lagi tamatan S1 memiliki keahlian yang baik daripada tamatan SMA yang juga sama-sama memiliki keahlian yang baik pula. Saya mengibaratkan jenjang pendidikan adalah sebuah kapal semakin tinggi jenjang pendidikan semakin besar kapal yang akan kita naiki, dan lautan adalah kehidupan (Pekerjaan, status sosial, Kekayaan, Kekuasaan, dan sebagainya) tinggal bagaimana kualitas manusia yang mempunyai pendidikan tinggi apakah berkualitas atau tidak yang menjadi bagian dari kapal.

Jika kapal yang dinaiki besar tetapi di dalamnya sungguh kacau, seperti sarana dan prasarana tidak memadai maka penumpang tidak nyaman, nahkoda yang tidak menguasai pekerjaan maka penumpang tidak nyaman, pelayanan tidak maksimal maka penumpang tidak akan nyaman, teknologi yang konvensinoal apakah penumpang bisa nyaman dengan hal tersebut lalu bagaimana kapal besar tersebut dengan kondisi yang demikian mengarungi lautan luas apakah akan bertahan dengan ganasnya lautan luas? Sebaliknya sebuah kapal besar dengan teknologi serba canggih dan modern, nahkoda dan awak kapal yang terampil semua sarana dan prasarana memadai, kualitas material yang baik dalam membuat kapal tersebut, dengan kondisi seperti ini membuat kapal besar ini percaya diri untuk mengarungi lautan dan menerjang ganasnya lautan luas.

Semoga pendidikan yang kita dapat bermanfaat bagi diri kita dan orang banyak. Amin

Salam Pentingkah Pendidikan?

Pertanyaan ini dilontarkan oleh saudara saya, apa arti sebuah pendidikan dan tingkat pendidikan dalam kehidupan?dalam pekerjaan?dalam kehidupan sehari-hari? Ya, begitulah kira-kira pertanyaan  yang dilontarkan oleh saudara saya tersebut. Pertanyaan tersebut muncul dikarenakan kekecewaannya pada bangku pendidikan yang Ia dapatkan saat ini, kurikulum yang digunakan sekolahnya kalau tidak salah kurikulum 2013 (K-13).

Apa itu kurikulum 2013 (K-13)? dikutip dari wikipedia kurikulum 2013 masuk dalam masa percobaannya pada tahun 2013 dengan menjadikan beberapa sekolah menjadi sekolah rintisan kurikulum 2013 ini menggantikan kurikulum 2006. Kurikulum 2013 ini memiliki empat aspek penilaian yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku, dimana ada materi yang dirampingkan seperti Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb dan ada materi yang ditambahkan yaitu salah satunya matematika dengan penyesuaian dengan materi pembalajaran internasional dengan harapan bisa seimbang antara pendidikan dalam negeri dengan luar negeri.

Dikutip dari website guru.or.id mengenai kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap dalam menghadapi masa depan sehingga kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Intinya lebih kepada mendorong siswa mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan apa yang mereka peroleh atau yang diketahui oleh siswa setelah menerima materi pembelajaran.

Dari penjelasan-penjelasan tersebut saya berkesimpulan kurikulum 2013 ini hampir mendekati sistem pembalajaran di perkuliahan dimana mahasiswa yang lebih aktif dalam pembalajaran baik itu cara berpikir, ide, presentasi, analisa, dan lain sebagainya yang diberikan oleh dosen, peran dosen ibaratnya seperti membimbing ke jalan yang benar ilmu pengetahuan yang sedang dipelajari.

Nah, kembali ke kurikulum 2013 (K-13) untuk mendukung kurikulum 2013 ini diperlukan profesionalitas seorang guru, disinilah baru timbul masalah yang dihadapi oleh saudara saya tersebut. guru seringkali lepas tangan dalam proses pembelajaran tersebut, adanya pembiaran proses belajar yang tidak terkontrol, ketika seorang murid ingin bertanya dan ingin berdiskusi dengan guru mengenai gagasan, observasi materi pembelajaran yang didapat, lebih banyak ketidaktahuan atau penguasaan guru terhadap materi yang diberikan. Tak jarang saudara saya menganggap lebih pintar murid ketimbang guru. Kurikulum 2013 bisa terwujud dengan diiringi profesionalitas dan tanggung jawab yang baik oleh seorang guru.

Dari sinilah saudara saya menganggap seberapa penting pendidikan dan tingkat pendidikan yang didapat oleh seseorang dalam pekerjaan? dalam kehidupan? toh, walaupun pendidikan seseorang tinggi tetapi tidak diimbangi dengan kualitas manusianya sama saja tidak ada apa-apanya. Lebih baik lulusan SMA tapi mempunyai skill ketimbang lulusan S1 tetapi tidak mempunyai skill ya begitulah kira-kira curhatan saudara saya berhubung ybs akan menamatkan pendidikan SMK nya.

Dari curhatannya tersebut saya coba memberi masukan, memang kualitas manusia menentukan keberhasilan, tapi alangkah lebih baik lagi tamatan S1 memiliki keahlian yang baik daripada tamatan SMA yang juga sama-sama memiliki keahlian yang baik pula. Saya mengibaratkan jenjang pendidikan adalah sebuah kapal semakin tinggi jenjang pendidikan semakin besar kapal yang akan kita naiki, dan lautan adalah kehidupan (Pekerjaan, status sosial, Kekayaan, Kekuasaan, dan sebagainya) tinggal bagaimana kualitas manusia yang mempunyai pendidikan tinggi apakah berkualitas atau tidak yang menjadi bagian dari kapal.

Jika kapal yang dinaiki besar tetapi di dalamnya sungguh kacau, seperti sarana dan prasarana tidak memadai maka penumpang tidak nyaman, nahkoda yang tidak menguasai pekerjaan maka penumpang tidak nyaman, pelayanan tidak maksimal maka penumpang tidak akan nyaman, teknologi yang konvensinoal apakah penumpang bisa nyaman dengan hal tersebut lalu bagaimana kapal besar tersebut dengan kondisi yang demikian mengarungi lautan luas apakah akan bertahan dengan ganasnya lautan luas? Sebaliknya sebuah kapal besar dengan teknologi serba canggih dan modern, nahkoda dan awak kapal yang terampil semua sarana dan prasarana memadai, kualitas material yang baik dalam membuat kapal tersebut, dengan kondisi seperti ini membuat kapal besar ini percaya diri untuk mengarungi lautan dan menerjang ganasnya lautan luas.

Semoga pendidikan yang kita dapat bermanfaat bagi diri kita dan orang banyak. Amin

Salam sukses

Kamis, 21 April 2016

Bandara "Internasional" Sultan Syarif Kasim Pekanbaru

Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh,

Akhirnya saya punya waktu untuk menuangkan sebuah tulisan singkat di blog ini, mengingat cukup lama blog ini tidak dipoles dengan tulisan-tulisan.

Kali ini ide penulisan didapat sewaktu saya mengantarkan teman kantor ke bandara yang ada di kota Pekanbaru, bandara internasional Sultan Syarif Kasim sebelumnya bernama Simpang Tiga. Semua baik-baik saja ketika saya memasuki bandara tersebut, mulai dari parkiran, ruang tunggu, dan sebagainya.

Semua berubah semenjak di renovasi beberapa tahun yang lalu, setelah direnovasi bandara yang semula bernama Simpang Tiga kini berubah menjadi bandara Internasional Sultan Syarif Kasim, ya kini telah melekat embel-embel internasional dalam nama bandara tersebut. Saat akan meninggalkan bandara pandangan saya tertuju pada pintu parkir keluar. Jumlah kendaraan yang mengantre untuk membayar karcis parkir seperti ular, berbaris rapu kebelakang, akhirnya saya pun ikut serta mengantre seperti yang lainnya.

Saya pun berpikir kenapa bandara yang punya embel-embel internasional seperti ini hanya memiliki pintu masuk dan pintu keluat masing-masing hanya memiliki dua saja, seperti yang saya ketahui padahal intensitas yang pergi dan yang datang kr kota Pekanbaru melalui bandara ini terbilang banyak, ya itu bisa saja dikarenakan kota Pekanbaru saat ini sedang berkembang pembangunan disana sinj mulai tumbuh.

Kembali ke pembahasan kepada pintu masuk dan pintu keluar yang masing-masing hanya memiliki dua pintu, melihat banyaknya jumlah orang yang datang dan yang pergi dari dan keluar kota Pekanbaru melalui bandara internasional tersebut serasa tidak percaya dengan akses masuk bagi pengantar dan akses keluar bagi penjemput dengan pelayanan masing-masing hanya memiliki dua pintu, dengan antrean yang memanjang padahal yang saya lihat disebelah kanan dan sebelah kiri terdapat lahan yang masih kosong yang cukup untuk membangun beberapa pintu tambahan lagi apalagi untuk bandara dengan embel-embel Internasional.

Antran panjang yang saya lihat mungkin si pengendara ataupun yang ada didalam kendaraan memilkki keperluan yang penting, bayanhkan dengan kondisk yang tergesa-gesa ataupun sangat penting menunggu diantrean panjang tersebut, apalagi jika kondisi perut begejolak dan ingin mengeluarkan sesuatu :D

Sekian, terima kasih.

Jumat, 29 Januari 2016

Tips Surat Lamaran Kerja

Banyaknya jumlah pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lowongan kerja yang tersedia, dari data BPS tahun 2014 untuk Provinsi Riau tercatat bahwa jumlah pencari kerja terdaftar sebanyak 21.599 dan untuk jumlah lowongan yang tersedia sebanyak 5.088 sedangkan yang paling mencengangkan adalah jumlah tenaga kerja yang terserap hanya berjumlah 404 saja (Sumber data BPS : httpp://www.bps.go.id/linkTabelStatis/id/984), artinya masih banyak tenaga kerja yang tak terserap yang berdampak terhadap jumlah angka pengangguran yang ada di Provinsi Riau.

Dalam tulisan kali ini saya akan berbagi tips yang tak jauh-jauh dari dunia kerja. Kali ini saya akan berbagi tips mengenai surat lamaran kerja, mungkin artikel-artikel ataupun seminar-seminar sudah banyak yang membahasnya, ini saya angkat berdasarkan pengalaman dilapangan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pencari kerja dalam membuat surat lamaran adalah sebagai berikut :
1. Surat lamaran di ketik rapi (menggunakan komputer bukan mesin tik), biar kelihatan rapi ketimbang tulisan tangan, kalau tulisan tangannya bagus tidak masalah. Tapi saat ini semua HRD di perusahaan-perusahaan lebih menyukai lamaran yang diketik. Tulisan tangan digunakan biasanya by request untuk rekrutmen tertentu.

Perhatikan alamatatau PIC penerima lamaran yang dituju beserta posisi yang dilamar, terkadang pelamar asal main copy paste dari lamaran sebelumnya lupa mengganti PIC dan posisi yang dilamar sehingga tampak aneh, ini lamaran masuk ke perusahaan A tapi alamat, PIC dan posisi yang dilamar adalah B

Untuk format tulisan alangkah baiknya tidak terpaku dengan "Times New Roman" kita bisa memilih format huruf lainnya yang lebih rapi.

Surat lamarannya baiknya menggunakan kertas HVS/A4 dan disarankan tidak menggunakan surat lamaran yang tersedia di stationery atau toko-toko buku.

2. Curriculum Vitae (CV) atau riwayat hidup juga sebaiknya diketik rapi tidak tulis tangan, agar CV kelihatan menarik dibuat berbeda dengan CV lainnya, misalnya dicetak dengan print berwarna lebih ditambahkan pola-pola atau tabel agar kelihatan menarik, contoh-contoh CV juga tersedia di mbah google, silahkan dicari.

Membuat CV sebaiknya juga tidak menggunakan CV yang tersedia di toko-toko buku, CV diketik lebih eye catching.

3. Lengkapi syarat-syarat yang diminta oleh perusahaan untuk posisi yang dibuka.

4. Perbaharui semua dokumen yang diminta sebagai persyaratan. Pelamar terkedang enggan untuk memperbaharui dokumen yang diminta sebagai syarat misalnya SKCK, KTP, SIM, Surat Keterangan Sehat, dsb. Susah membedakannya antara malas dan ingin berhemat.

5. Jika semua persyaratan yang diminta telah lengkap, dijadikan satu disusun rapi sesuai urutan yang diminta atau disusun menurut si pelamar yang jelas rapi. Jangan biarkan berkas lamaran itu dimasukan saja ke dalam amplop tanpa dibuat satu menggunakan staples atau paper clip, akan ada penilaian juga terhadap surat lamaran seperti itu.

6. Tuliskan alamat pengirim dan penerima lamaran beserta posisi (jika diminta untuk mencantumkan) dengan rapi.

7. Berdoa dan berusaha, semoga lamaran diproses dan kita pun diterim bekerja jika belum teruslah berusaha.

Demikianlah tulisan singkat saya kali ini, jika ada tambahan silahka di share barangkali ada yang kurang.

Lebih dan kurang mohon maaf, semoga bermanfaat dan terima kasih.

Selasa, 02 Juni 2015

Prosedur Balik Nama Kendaraan (Mobil) Di SAMSAT Pekanbaru

Selamat siang,
Pada tulisan kali ini Saya ingin berbagi mengenai tata cara pengurusan balik nama kendaraan khususnya mobil (based on experience SAMSAT SELATAN). Saya rasa untuk sepeda motor prosedurnya mesti lah sama.
Oke, langkah-langkahnya sebagai berikut :
1.      Persiapkan semua administrasi yang dibutuhkan, antara lain :
a.    BPKB asli beserta fotocopy BPKB
b.    STNK asli beserta fotocopy STNK
c.    KTP asli pembeli mobil beserta fotocopy KTP (tidak perlu menggunakan KTP penjual)
d.   Kuitansi asli pembelian mobil

Note : masing-masing fotocopy dibuat 2 rangkap buat jaga-jaga

2.      Langsung menuju lokasi SAMSAT Selatan yang berlokasi di Jl. Jend. Sudirman (bersebelahan dengan Gelanggang Remaja)
a.    Kendaraan langsung dibawa menuju ke lokasi tempat pelaksanaan cek fisik kendaraan yang terletak di bagian belakang kantor.
b.    Melapor kepada petugas yang ada diloket, sampaikan niat kita ingin balik nama kendaraan sambil menyerahkan fotocopy administrasi beserta aslinya yang telah kita persiapkan sebelumnya.
c.    Setelah berkas diverifikasi oleh petugas, selanjutnya kita diberikan form cek fisik oleh petugas tersebut. Kemudian kita meminta bantuan kepada bapak-bapak penyedia jasa yang bersedia melakukan cek fisik yang ada disekitar lokasi, persisnya didekat meja luar yang telah disediakan, sangat mudah mencari keberadaan bapak-bapak tersebut J. jangan lupa sediakan uang tip seikhlasnya untuk bapak-bapak tersebut.
d.   Setelah cek fisik kendaraan dilakukan langkah selanjutnya adalah melapor kembali kepada petugas yang memverifikasi berkas kita sewaktu kita menyampaikan niat ingin balik nama.
e.    Petugas tersebut akan menginstruksikan kepada kita agar melaporkan BPKB yang akan diganti status kepemilikannya ke DIRLANTAS (Direktorat Lalu Lintas) yang berada di Jl. Senapelan bersebelahan dengan mesjid raya pasar bawah.
f.     Langkah selanjutnya setelah sampai di DIRLANTAR tersebut adalah mengisi formulir yang telah disediakan (isi formulir tersebut sesuai petunjuk yang telah disediakan).Setelah formulir di isi  lengkap kemudian melapor kepada petugas yang ada diloket.
g.    Setelah petugas memverifikasi berkas, selanjutnya kita membayara uang sejumlah Rp. 400.000 untuk biaya administrasi proses balik nama tersebut

Note : BPKB akan selesai dalam waktu kurang lebih 4 hari jika mobil/kendaraan yang di urus statusnya ganti nomor polisi
h.    Setelah resi untuk pengambilan BPKB diterima langkah selanjutnya adalah kembali ke SAMSAT Selatan untuk pembayaran pajak.
i.      Langsung ke Loket 4 untuk penyerahan berkas, tunggu beberapa saat nama kita akan dipanggi untuk diberikan formulir, diloket ini kita membayar kalau tidak salah sekitar Rp. 120.000, kemudian kita mengambil nomor antrian melalui petugas yang ada didekat loket 4 tersebut.
j.      Sambil menunggu nomor antrian, isi formulir tersebut secepat mungkin karena nomor antrian berjalan cepat (tidak lengkap tidak masalah, saya alami sendiri). Jika tiba nomor antrian kita langsung menyerahkan formulir yang telah di isi tersebut, kemudian petugas akan meminta kita untu menungg sejenak.
k.    Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba, nama kita dipanggil untuk memnbayarkan sejumlah pajak. Setelah pajak dibayarkan kita pun menerima STNK baru dengan identitas kepemilikan atas nama kita sendiri J

Note : BPKB di ambil di hari yang sudah ditentukan oleh petugas sewaktu pendaftaran BPKB di DIRLANTAS Jl. Senapelan dan jangan lupa untuk membawa resi pengambilannya.

PERINGATAN!!!URUS SENDIRI LEBIH ASIK DAN MURAH KETIMBANG CALO, BIAYA MURA DAN KITA TAHU PROSEDURNYA SEPERTI APA (JADI PENGALAMAN KALAU-KALAU ADA TEMAN/SAUDARA YANG BERTANYA) :D