Pages

Selasa, 17 Maret 2026

Permintaan yang Tak Akan Pernah Dikabulkan

Suatu hari, ketika sedang bersantai sambil membuka aplikasi YouTube, tanpa sengaja menemukan sebuah video pendek (short) yang menampilkan seorang imam besar sedang melantunkan ayat suci dari Al-Qur'an. Suaranya tenang, merdu, dan penuh penghayatan. Ayat yang dibacanya berasal dari Surah Al-Mu’minun ayat 99–100.

 

Pada awalnya saya hanya mendengarkan sambil lalu. Namun perlahan suasana berubah. Di tengah lantunan ayat tersebut, imam itu tiba-tiba berhenti sejenak. Suaranya bergetar. Tangisnya pecah ketika membaca ayat itu. Ia mencoba melanjutkan bacaannya, tetapi air mata terus mengalir.

 

Melihat dan mendengar hal itu membuat saya terdiam. Ada sesuatu dalam ayat tersebut yang begitu menyentuh hingga membuat seorang imam besar pun tak mampu menahan tangisnya. Rasa penasaran pun muncul dalam hati saya. Apa sebenarnya makna dari ayat yang dibacanya itu?

 

Akhirnya saya mencari dan membaca terjemahannya. Ternyata terjemahan ayat tersebut berbunyi

Ayat 99:

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia).

 

Ayat 100 :

agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan." Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh1 sampai pada hari mereka dibangkitkan.

 

Setelah membaca terjemahan itu, barulah mulai memahami mengapa imam tersebut menangis ketika membacanya. Ayat itu menggambarkan penyesalan manusia yang datang terlambat—penyesalan ketika seseorang sudah berada di ambang kematian.

 

Dalam terjemahan ayat itu, menggambarkan seseorang memohon dengan sangat kepada Allah agar diberi kesempatan kembali ke dunia. Ia ingin memperbaiki kesalahannya. Ia ingin beribadah lebih banyak. Ia ingin menebus semua kelalaian yang pernah dilakukannya.

Namun permintaan itu tidak akan pernah dikabulkan. Di hadapan mereka telah ada barzakh, sebuah pembatas antara dunia dan akhirat hingga hari kebangkitan.

 

Ayat ini seakan membawa kita membayangkan sebuah momen yang sangat sunyi dan menegangkan—saat manusia berada di ujung hidupnya. Saat itu, semua kesibukan dunia yang dulu terasa begitu penting tiba-tiba menjadi tidak berarti. Harta, jabatan, kesenangan, dan kebanggaan dunia yang selama ini dikejar seakan lenyap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah penyesalan karena waktu yang diberikan Allah tidak dimanfaatkan untuk beribadah dan berbuat kebaikan.

 

Padahal, selama hidup di dunia manusia telah berkali-kali diingatkan. Sejak zaman dahulu Allah mengutus para nabi untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia. Peringatan itu disampaikan kembali oleh para ulama melalui ceramah, kajian, dan nasihat yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad. Semua itu bertujuan agar manusia tidak tersesat dalam kehidupan dunia yang sementara.

 

Namun kenyataannya, tidak semua manusia mau mendengar. Ada yang merasa bahwa kehidupan dunia masih panjang. Ada pula yang berpikir bahwa melanggar larangan Allah tidak membawa dampak apa-apa. Mereka tetap tenggelam dalam kesenangan dunia: meminum minuman keras, berbuat zalim kepada sesama, atau melakukan perbuatan yang dilarang agama. Hati mereka merasa tenang seolah-olah tidak ada yang salah. Di sinilah sebenarnya iman sedang diuji.

 

Kondisi ini sebenarnya sangat mirip dengan kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan seorang anak yang dinasihati orang tuanya sebelum keluar rumah.

 

“Jangan pulang terlalu malam,” kata sang ayah. “Di jalan tidak aman. Banyak begal sekarang.”

 

Namun nasihat itu sering dianggap sebagai hal biasa.

 

Anak tersebut berpikir, “Ah, tidak apa-apa. Saya sudah sering pulang malam dan tidak pernah terjadi apa-apa.”

 

Lalu suatu malam ia tetap pulang larut. Jalanan mulai sepi, lampu-lampu jalan redup, dan suasana terasa sunyi. Tiba-tiba beberapa orang menghadangnya di jalan. Motor yang ia kendarai dirampas, ponsel di tangannya diambil, dan ia pulang dengan perasaan takut serta menyesal.

 

Dalam hati ia berkata, “Seandainya tadi aku mendengarkan nasihat ayah… motor ini tidak akan hilang.”

 

Penyesalan seperti ini sering terjadi dalam kehidupan dunia. Kita lalai mendengar nasihat, lalu ketika musibah datang barulah kita menyadari kesalahan kita. Namun di dunia ini, penyesalan masih memiliki kesempatan untuk diperbaiki. Kita masih bisa bekerja lagi, membeli motor baru, atau memperbaiki kesalahan yang telah terjadi.

 

Tetapi keadaan di akhirat tidaklah demikian.

 

Ketika manusia telah melewati batas antara kehidupan dunia dan kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali. Tidak ada lagi waktu untuk memperbaiki amal yang telah ditinggalkan. Saat itulah manusia menyadari bahwa kehidupan dunia sebenarnya hanyalah sebuah kesempatan yang sangat singkat untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang kekal.

Ayat dalam Surah Al-Mu’minun tersebut seakan menjadi pengingat yang sangat kuat bagi kita semua. Bahwa penyesalan terbesar bukanlah kehilangan harta, jabatan, atau kesenangan dunia. Penyesalan terbesar adalah ketika manusia menyadari bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu hidupnya tanpa memperbanyak amal dan tanpa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 

Karena itu, selama napas masih berhembus dan waktu masih diberikan oleh Allah, kesempatan untuk berubah selalu terbuka. Setiap hari adalah peluang untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan menjauhi segala larangan-Nya.

 

Sebab kelak, ketika kematian benar-benar datang, tidak ada seorang pun yang dapat kembali untuk mengulang kehidupannya.

 

Dan saat itu, satu-satunya hal yang akan kita harapkan bukanlah kembali ke dunia, melainkan semoga amal yang pernah kita lakukan cukup untuk menyelamatkan kita di hadapan Allah SWT.

 

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua. Selagi waktu masih Allah berikan, jangan menunda untuk berbuat baik, jangan menunda untuk bertaubat, dan jangan menunda untuk mendekat kepada-Nya.
 

Rabu, 11 Maret 2026

“Seumur Hidup untuk Satu Kesalahan”

Di sebuah sudut kota yang ramai di Pulau Sumatra, hiduplah seorang pemuda bernama Rafi. Ia lahir pada awal tahun 2000-an dari keluarga sederhana yang tinggal di sebuah rumah kecil di lingkungan padat penduduk. Rumah itu bukanlah rumah mewah, tetapi penuh kenangan dan perjuangan.

Ayahnya adalah seorang pekerja bangunan yang setiap hari berangkat pagi dan pulang menjelang malam dengan tubuh penuh debu semen. Ibunya membuka usaha kecil-kecilan menjual sarapan di depan rumah. Dari usaha sederhana itu, keluarganya bertahan hidup.

Rafi adalah anak bungsu. Ia tumbuh di tengah kasih sayang kel
uarga dan kakak-kakaknya yang selalu berusaha menjaganya. Masa kecilnya berjalan seperti anak-anak lain. Ia bermain, bersekolah, dan sesekali membantu ibunya di rumah.

Namun sejak remaja, Rafi memiliki jiwa yang berbeda. Ia senang berdagang. Saat masih duduk di bangku SMP, ia sudah mulai mencoba berjualan handphone bekas. Tidak jarang ia juga membantu orang menjual sepeda motor second.

Bagi Rafi, berdagang terasa menyenangkan. Ia merasa bangga bisa menghasilkan uang sendiri.

Dari aktivitas itu pula ia mulai mengenal banyak orang. Awalnya hanya sekadar relasi bisnis. Tetapi perlahan, lingkaran pergaulannya semakin luas. Ia bertemu berbagai karakter manusia.

Sayangnya, tidak semua pergaulan membawa kebaikan.

Di antara orang-orang yang ia kenal, ada seseorang yang kemudian membawa hidupnya ke jalan yang salah. Awalnya hanya sekadar ikut berkumpul. Kemudian mulai diajak membantu hal-hal kecil. Sampai akhirnya tanpa benar-benar menyadari konsekuensinya, Rafi terseret ke dalam jaringan peredaran narkotika.

Saat itu usianya masih sangat muda. Ia tidak benar-benar memahami betapa besar risiko yang sedang ia hadapi.

Hari-hari berjalan seperti biasa, sampai suatu malam semuanya berubah.

Petugas datang.

Rafi ditangkap.

Dunia yang selama ini ia kenal seakan runtuh dalam sekejap. Ia melihat ibunya menangis. Ia melihat keluarga yang selama ini selalu mendukungnya kini harus menanggung rasa malu dan sedih.

Beberapa waktu kemudian, pengadilan menjatuhkan putusan yang sangat berat.

Penjara seumur hidup.

Saat palu hakim diketuk, Rafi hanya terdiam. Ia merasa hidupnya seolah berhenti di titik itu. Masa depan yang pernah ia bayangkan tiba-tiba menghilang.

Hari-hari berikutnya ia jalani di sebuah lembaga pemasyarakatan dengan tingkat keamanan sangat tinggi di sebuah pulau terpencil. Tempat itu dikenal keras, sunyi, dan penuh cerita kehidupan para narapidana.

Awalnya Rafi merasa putus asa.

Ia sering memikirkan ibunya yang kini harus hidup sendirian setelah ayahnya meninggal beberapa tahun kemudian. Ia juga memikirkan masa mudanya yang seolah hilang begitu saja.

Namun perlahan waktu mengajarkannya sesuatu.

Di dalam penjara, Rafi mulai banyak merenung. Ia mulai mendekatkan diri pada Tuhan. Ia rajin mengikuti kegiatan keagamaan dan berusaha memperbaiki dirinya.

Ia sadar satu hal.

Kesalahan memang telah terjadi, tetapi hidup tidak boleh berhenti.

Hari demi hari ia jalani dengan lebih tenang. Ia belajar mengendalikan emosi, menghormati petugas, dan menjaga hubungan baik dengan sesama narapidana. Selama bertahun-tahun menjalani pembinaan. 

Ibunya pun tetap setia menunggu.

Walau hanya melalui panggilan video sesekali, sang ibu selalu memberi semangat.

“Yang penting kamu berubah menjadi lebih baik,” kata ibunya suatu hari dengan suara yang bergetar.

Waktu terus berjalan.

Lima tahun berlalu.

Rafi kini bukan lagi pemuda yang sama seperti dulu. Ia lebih dewasa, lebih tenang, dan lebih memahami arti tanggung jawab.

Di luar sana, masyarakat yang dulu mengenalnya juga tidak menutup pintu. Mereka tahu Rafi sebenarnya bukan anak yang bermasalah. Ia hanya pernah tersesat oleh pergaulan yang salah.

Bagi Rafi, harapan kini menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Ia tidak lagi bermimpi tentang kekayaan atau kesuksesan besar. Satu hal yang ia inginkan hanyalah kesempatan.

Kesempatan untuk menebus kesalahan.

Kesempatan untuk kembali menjadi anak yang bisa membanggakan ibunya.

Dan kesempatan untuk membuktikan bahwa seseorang yang pernah jatuh, masih bisa bangkit kembali.

Karena terkadang dalam hidup, satu kesalahan bisa menghancurkan masa depan.

Namun kesadaran dan perubahan dapat membuka jalan menuju kehidupan yang baru.

Senin, 09 Maret 2026

Satu Kesalahan, Masa Depan Berantakan

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi rawa dan kebun kelapa di pesisir timur Sumatra, hiduplah seorang anak remaja bernama Faris. Usianya baru lima belas tahun. Tubuhnya kurus, wajahnya masih menyimpan kepolosan masa kanak-kanak, tetapi matanya sering terlihat memikirkan banyak hal.

Faris adalah anak keem
pat dari enam bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayah kandungnya telah meninggal ketika ia masih kecil. Sejak saat itu, kehidupan keluarganya berubah. Ibunya harus bekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya. Beberapa saudaranya bahkan sempat tinggal bersama kerabat karena kondisi ekonomi yang sulit.

Beberapa tahun kemudian, ibunya menikah lagi dengan seorang pria sederhana yang bekerja sebagai buruh harian. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di desa. Rumah itu tidak besar, tetapi cukup hangat untuk ditinggali bersama.

Meski hidup dalam keterbatasan, Faris bukan anak yang bermasa
ah di sekolah. Ia dikenal sebagai anak yang pendiam, namun mudah bergaul. Guru-gurunya tidak pernah mencatat pelanggaran yang serius darinya. Nilai-nilainya memang tidak selalu menonjol, tetapi ia tidak pernah tinggal kelas.

Satu hal yang paling disukai Faris adalah sepak bola. Hampir setiap sore ia bermain di lapangan tanah dekat rumah bersama teman-temannya. Ia lincah dan cepat. Beberapa kali tim sekolahnya bahkan memenangkan pertandingan futsal antar sekolah. Ketika berada di lapangan, Faris terlihat berbeda—lebih percaya diri, lebih hidup.

Namun kehidupan seorang remaja tidak selalu berjalan lurus.

Sejak kelas empat sekolah dasar, Faris mulai memiliki telepon genggam sendiri. Awalnya itu untuk membantu sekolah daring ketika pandemi. Tetapi setelah keadaan kembali normal, telepon itu tetap berada di tangannya.

Tanpa pengawasan yang cukup, dunia kecil di layar itu perlahan membuka pintu yang seharusnya belum ia pahami.

Game online membuatnya sering menghabiskan waktu sendirian di kamar. Dari sana, ia juga tanpa sengaja menemukan berbagai video yang tidak pantas untuk anak seusianya. Rasa penasaran seorang remaja perlahan berubah menjadi kebiasaan yang diam-diam memengaruhi cara berpikirnya.

Faris sendiri tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Hingga suatu sore di bulan Juni.

Hari itu cuaca panas. Matahari sudah mulai condong ke barat ketika Faris mengirim pesan kepada seorang teman perempuan yang dikenalnya melalui media sosial. Sebut saja namanya Alya. Ia masih duduk di kelas satu SMP, lebih muda darinya.

Faris mengajaknya datang ke rumah.

Awalnya hanya untuk makan bersama dan berbincang. Namun percakapan sore itu berubah menjadi sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Dalam kebingungan, dorongan emosi, dan pengaruh dari apa yang selama ini ia tonton di layar ponselnya, Faris melakukan tindakan yang kelak akan sangat ia sesali.

Peristiwa itu terjadi begitu cepat, tetapi dampaknya tidak sederhana.

Hari-hari berikutnya menjadi awal dari masalah besar yang belum pernah dibayangkan Faris sebelumnya. Ketika keluarga Alya mengetahui apa yang terjadi, laporan dibuat ke pihak kepolisian.

Kabar itu menyebar dengan cepat di desa.

Orang-orang mulai berbisik. Sebagian merasa marah. Sebagian lain merasa khawatir. Tidak sedikit yang bertanya-tanya bagaimana dua anak seusia itu bisa terseret ke dalam peristiwa seperti itu.

Bagi Faris sendiri, dunia terasa seperti runtuh.

Ia mulai menyadari bahwa satu kesalahan dapat mengubah banyak hal dalam hidupnya. Sekolahnya terancam. Masa depannya menjadi tidak jelas. Yang paling berat adalah melihat wajah ibunya yang dipenuhi rasa sedih dan kecewa.

Ibunya tidak banyak bicara, tetapi ia tetap mendampingi Faris menghadapi proses hukum yang berjalan. Ia bahkan mendatangi keluarga Alya untuk meminta maaf.

Namun bagi keluarga Alya, luka yang terjadi tidak mudah dihapus begitu saja.

Proses hukum tetap berjalan.

Hari-hari setelah itu menjadi masa yang penuh renungan bagi Faris. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar memikirkan masa depan, kesalahan, dan tanggung jawab.

Di tempat ia menjalani pembinaan, Faris mulai belajar banyak hal. Ia kembali membaca buku. Ia lebih rajin beribadah. Kadang-kadang ia juga bermain sepak bola dengan anak-anak lain yang berada di sana.

Di dalam dirinya, perlahan tumbuh kesadaran baru.

Bahwa hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua dengan mudah, tetapi setiap manusia tetap memiliki peluang untuk berubah.

Faris tahu ia tidak bisa menghapus masa lalu. Ia juga tahu bahwa apa yang terjadi telah melukai orang lain. Namun jauh di dalam hatinya, ia menyimpan satu harapan sederhana.

Suatu hari nanti, ketika semua proses ini selesai, ia ingin kembali menjadi anak yang lebih baik.

Bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Tetapi juga untuk ibunya yang masih percaya bahwa anaknya masih memiliki masa depan.

Rabu, 25 Februari 2026

POV : SAAT MANUSIA DIKALAHKAN OLEH SEEKOR GAGAK

Ayat yang terdapat dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surat Al-Ma'idah ayat 31, mengisahkan peristiwa setelah Qabil membunuh saudaranya, Habil. Dalam kondisi kebingungan dan penyesalan, Allah mengirimkan seekor burung gagak yang menggali tanah untuk memperlihatkan kepadanya cara menguburkan jasad saudaranya. Peri6tiwa tersebut bukan sekadar kisah historis, melainkan sarat dengan pelajaran mendalam bagi umat manusia.

Secara reflektif, ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang senantiasa belajar. Bahkan dalam momen kelam yang dipenuhi kesalahan dan dosa, tetap terdapat ruang untuk memperoleh pelajaran. Qabil, yang telah melakukan perbuatan tercela, tetap diberi kesempatan untuk memahami tata cara memperlakukan jenazah secara layak. Dari peristiwa itu, umat manusia—khususnya umat Islam—mendapatkan petunjuk mengenai salah satu bagian penting dalam penyelenggaraan jenazah, yaitu proses penguburan.

Lebih jauh lagi, ayat ini mengandung pesan universal tentang relasi manusia dengan alam semesta. Allah tidak hanya menjadikan alam sebagai tempat tinggal manusia, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran. Seekor burung gagak, makhluk yang sering dipandang sederhana, justru menjadi perantara ilmu bagi manusia. Hal ini menegaskan bahwa hikmah dapat hadir melalui apa saja, termasuk melalui fenomena alam dan perilaku makhluk hidup di sekitar kita.

Dengan demikian, ayat tersebut mengajarkan nilai kerendahan hati dalam belajar. Manusia, betapapun tinggi kedudukannya, tetap memerlukan petunjuk dan dapat mengambil pelajaran dari ciptaan Allah lainnya. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan ayat-ayat kauniyah—tanda-tanda kebesaran Tuhan—yang dapat direnungkan.

Refleksi ini mengajak kita untuk membangun kesadaran bahwa proses belajar tidak pernah berhenti. Dari peristiwa, dari kesalahan, bahkan dari makhluk lain, manusia dapat menemukan pengetahuan dan hikmah. Pada akhirnya, kisah tersebut bukan hanya tentang penyesalan Qabil, tetapi juga tentang bagaimana Allah membimbing manusia melalui alam agar memahami nilai kemanusiaan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kehidupan.